dalam kategori | Layanan Kesehatan

Gaduh Pasien Miskin di RSCM

Gaduh Pasien Miskin di RSCM

Hati kita tersentak oleh fenomena pasien miskin (Gakin) yang semula menginap di kolong-kolong tangga Irna B RSCM terpaksa tergusur, lalu menginap di kantor LBH dan terakhir berkat kebaikan hati seorang dermawan mereka menginap di Jl. HOS Cokroaminoto. RSCM dan Dept Kesehatan diberitakan menelantarkan, mengusir dan sebagainya. Saya baca pada suatu surat kabar, bahwa RSCM dan Dept Kesehatan dibilang diam saja, tutup mulut bahkan dikatakan tidak peduli pada rakyat miskin. Apakah makna fenomena ini? Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran yang lebih rasional terhadap fenomena tersebut. Sekaligus memberikan jawaban yang mendasar pada masa depan. Bahasan dibagi dalam 3 bagian, yaitu Sistem Kesehatan Nasional beserta Jaminan Kesehatan Nasional (JamKesMas), kedua tentang RSCM, dan ketiga Sistem Dokter Keluarga.

 

Sistem Kesehatan Nasional

Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dirumuskan sebagai implementasi Undang-undang No. 23 tahun 1989 tentang Kesehatan. Perinsip dasar dari SKN adalah pelaksanaan salah satu amanat pembukaan UUD 1945, yaitu mensejahterakan rakyat Indonesia. Perinsip dasar ini sekaligus salah satu aspek tugas negara (yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama seluruh masyarakat) dengan sendirinya tersusun dalam suatu kerangka yang dengan sendirinya mulai dan visi-misi-tujuan program, dan rencana pelaksanaan sampai implementasi dan susunan standar operasional. Kerangka utama SKN dapat disimpulkan terdiri atas 3 bagian. Pertama, pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya, kedua Ketahanan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ketiga adalah pemberdayaan manusia Indonesia agar mampu memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

Pelaksanaan SKN dengan sendirinya menjadi tanggung jawab Dept Kesehatan ditunjuang oleh departemen lain khususnya dalam bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Rumusan upaya kesehatan dilaksanakan secara holistik, komprehensif dan integratif pada 4 bidang sasaran utama, yaitu usaha-usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Kita ambil contoh bidang kuratif, yang maksudnya menyembuhkan orang yang sudah sakit. Fenomena adanya orang miskin yang sakit yang terpaksa tergusur dari RSCM adalah pelaksanaan bidang kuratif.

Pelayanan kuratif dalam SKN tersusun dalam 3 strata, pertama pelayanan primer yang dilaksanakan di Puskesmas dan praktek dokter umum swasta yang umumnya dilaksanakan sore hari. Strata kedua adalah pelayanan sekunder yang dilaksanakan oleh rumah sakit tipe C dan tipe B, disertai praktek dokter spesialis. Strata ketiga adalah pelayanan tertier, yaitu upaya penyembuhan bagi pasien yang memerlukan teknologi tinggi dan bersangkutan dengan proses keilmuan yang rumit. Pelayanan tertier ini dilaksanakan rumah sakit tipe A yang umumnya rumah sakit pendidikan ibukota propinsi, salah satunya adalah RSCM Jakarta.

 

RSCM

RSCM singkatan dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, merupakan  salah satu organ dalam struktur Dept. Kesehatan. Melalui berbagai peraturan Menteri Kesehatan, RSCM berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan untuk FKUI, sebagai rumah sakit tipe A ditambah dengan satu fungsi lagi, yaitu sebagai rujukan nasional. Makna rujukan nasional adalah mampu menyelesaikan problem kuratif dengan kesulitan tertinggi yang ada di Indonesia. Sebagai contoh adalah operasi kembar siam Yuliana Yuliani yang sukses selamat oleh tim yang dipimpin oleh Prof. Padmo Sancoyo puluhan tahun yang lalu. Saat ini kedua bayi sudah menjadi 2 remaja yang cerdas dan cantik-cantik. Selain itu secara tradisional semua model pengobatan terbaru dimulai di RSCM, misalnya transplantasi ginjal cuci darah, lalu disebar ke daerah lain.

Kejadian sehari-hari di RSCM selain tugas pokok tersebut, beban RSCM diperberat dengan mengalirnya pasien dari segala penjuru Jakarta bahkan dari seluruh Indonesia. Dapat dibayangkan setiap pagi sudah berada di RSCM ribuan pasien menunggu pelayanan. Dengan banyaknya pasien yang datang ke RSCM baik perorangan maupun rujukan, terpaksalah RSCM diberi gelar/julukan Puskesmas Raksasa.

Salah satu contoh kesulitan adalah: pernah suatu ketika RSCM akan melaksanakan sistem rujukan sesuai peraturan. Namun ongkos sosialnya terlalu tinggi. Timbul gejolak sosial yang cukup ”mengharukan”: RSCM menolak pasien, tidak berperikemanusiaan. Ya lebih baik bekerja sebagai sedia kala.

 

Pasien Miskin Terlantar

Fenomena pasien miskin yang tergusur dari RSCM tersebut, tidak lepas dari fungsi RSCM sebagai puskesmas raksasa dan belum terlaksananya sistem rujukan sebagaimana seharusnya. Dalam pelaksanaan fungsi kuratif, tentu saja ada kriteria dan prioritas, mana yang perlu dirawat dan mana yang  dapat berobat jalan. Saat ini prioritas perawatan adalah penyelamatan pasien, artinya pasien yang dirawat adalah mereka yang sakit yang menurut ilmu dan fasilitas yang ada, pasien dapat disembuhkan. Jadi tidak semata beratnya penyakit. Sebagai contoh, pasien stadium akhir misalnya kanker lanjut, lebih baik dirawat di rumah (home care), sebaliknya orang segar bugar yang tekanan darah tinggi sekali atau serangan asma yang belum sembuh dengan pengobatan biasa, ya harus dirawat. Selain itu perawatan diindikasikan bagi pasien yang sudah sampai giliran untuk tindakan, operasi. Saat ini daftar tunggu operasi sangatlah panjang. Hal ini tidak lepas dari fungsi RSCM sebagai rujukan nasional. Di sinilah timbulnya pasien yang suka tidur di RSCM. Tempat tidur selalu penuh terisi sepanjang tahun.

Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa fenomena pasien tergusur bukanlah problema medik, melainkan problema sosial. Pertanyaannya adalah, apakah RSCM akan ditambah bebannya untuk mengurus ”hidup” pasien rawat jalan dari daerah lain? Inilah sudut pandang yang diharapkan dalam memberi makna fenomena pasien miskin terlantar tersebut. Apakah suatu problem sosial akan dikembangkan menjadi masalah hukum bahkan masalah politik? Apakah tidak lebih baik kita berunding mencari jalan keluarnya?

 

Usul penyelesaian mendasar: Jamkesmas dan dokter Keluarga

Jamkesmas adalah akronim dari Jaminan Kesehatan Masyarakat, yang sistemnya baru saja dibangun. Kita semua wajib menyukseskan sistem ini. Pasien miskin yang terlantar tersebut dapat sampai ke RSCM berkat sistem ini.

Fenomena pasien miskin tersebut bila dikaji dengan seksama pada dasarnya belum bakunya pelaksanaan mekanisme rujukan dalam sistem jamkesmas. Belum ada pengaturan tentang pendampingan atau yang memandu pasien rujukan. Setiap mekanisme kerja memerlukan suatu instrumen. Di sinilah relevansi usulan saya seperti tersebut pada subjudul makalah ini, yaitu sistem jamkesmas perlu didampingi (matching) dengan sistem dokter keluarga.

 

Sistem Dokter Keluarga

Sistem dokter keluarga sebagai bagian struktur SKN sudah berjalan sangat bagus di negara maju. Sistem dokter keluarga selalu dikaitkan dengan sistem asuransi kesehatan baik yang resmi dari negara/seperti Jamkesmas di Indonesia, maupun yang diusahakan oleh swasta. Setiap keluarga atau orang per orang diwajibkan mengikatkan diri pada seorang dokter keluarga. Pasien tidak perlu membayar dokter karena dokter keluarga mendapat gaji dari asuransi. Kita bersyukur bahwa sudah ada satu kota, yaitu kota Bontang yang melaksanakan secara penuh dan konsekwen sistem Jamkesmas dengan didampingi sistem dokter keluarga. Kebetulan walikota Bontang seorang dokter, yaitu Dr. Andi Sofyan Hasdani, SpS. (Media Aesculupius, Mei 2008).

Dokter keluarga itulah yang membimbing, mengasuh pasien beserta keluarganya, termasuk mengirim sekaligus memandu rujukan yang diperlukan. Dokter spesialis yang merawat wajib berkomumikasi aktif dengan dokter keluarga yang merujuk. Selain itu rumah sakit harus mengacu segala prosedur yang akan dilaksanakan dengan ketentuan yang disepakati dengan asuransi (jamkesmas). Hal ini diperlukan berhubung secara filosofis selalu ada perbedaan interes (orientasi) antara kaum profesional kedokteran dengan perusahaan asuransi. Secara profesional (juga pasien) selalu menghendaki yang maksimal terbaik, terbaru, sebaliknya perusahaan asuransi selalu berorientasi pada manfaat, efisiensi dan hemat. Di sinilah peran yang sangat penting dari dokter keluarga.

 

Siapakah dokter keluarga?

Inilah suatu pertanyaan yang sederhana, namun menimbulkan silang pendapat bahkan benturan pemikiran yang sampai sekarang belum selesai dalam intern IDI, sekaligus fenomena yang dapat menerangkan mengapa pengembangan sistem dokter keluarga tersendat.

Ide dokter keluarga di Indonesia pertama kali dicetuskan oleh DR. Kartono Mohamad tahun 1970an, jadi hampir 40 tahun yang lalu di Makasar saat beliau menjabat Wakil Ketua Umum (President elect) IDI. Semua dokter setuju ide ini lalu dibentuk kolose dokter keluarga IDI (KDKI). Pangkal perselisihan ada pada pertanyaan: siapakah dokter keluarga? Sebagian pemikir meminta dokter keluarga setingkat spesialis di atas dokter umum. Kelompok pemikir kedua yang umumnya para spesialis menghendaki dokter keluarga adalah generalis, yaitu dokter umum dengan penambahan kompetensi bidang promotif dan preventif serta fungsinya bersifat pengasuhan dan sebagian fungsi kuratif pada penyakit yang umum. Rumusan yang diusulkan adalah dokter keluarga disebut dokter umum plus. Inilah pangkal mula susahnya sistem dokter keluarga berkembang di Indonesia.

Dengan tulisan ini semoga semua orang sadar pentingnya sistem dokter keluarga di Indonesia dalam pelaksanaan Jamkesmas. Sistem dokter keluarga dan Jamkesmas adalah kunci pelaksanaan SKN khususnya masyarakat miskin dengan demikian fenomena pasien miskin terlantar di RSCM tidak terulang lagi.

 

Daldiyono Harjodisastro, Guru Besar FKUI

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu