dalam kategori | Layanan Kesehatan

Fogging yang cermat sesuai prosedur

Fogging yang cermat sesuai prosedur

Nyamuk mungkin serangga paling menjengkelkan di Indonesia. Saya meyakini hampir 100 persen penduduk Indonesia pernah merasakan gigitannya. Masih syukur jika mereka cuma berputar-putar, walau suaranya bikin senewen. Saat mereka mendarat di permukaan kulit, lalu seenaknya saja menghisap sebagian darah, kejengkelan pun bertambah. Jika cuma gatal saja tidak mengapa. Namun saat badan meriang beberapa hari – bahkan ada yang tanpa deman sama sekali, lalu tiba-tiba dingin dan lemas tak berdaya, pikiran pun mulai kalut. Ketika hasil tes darah menyebuktan kadar trombosit terjun bebas hingga di bawah 100 ribu, kalut makin menjadi-jadi. Akhirnya keluar hasil diagnosanya: Deman Berdarah.

Vonis demam berdarah dari dokter pun dilaporkan ke ketua RT/RW. Jika korbannya banyak, atau terjadi epidemi di wilayah tertentu, maka salah satu tindakan dari Dinas Kesehatan atau Puskesmas adalah fogging. Akhirnya semua dipukul rata, satu kompleks pun kena sasaran fogging, bahkan setiap sudut di dalam rumah pun diasapi. Kita pun dibuat repot lagi sebelum dan sesudah fogging.

Dulu pengasapan bercampur pestisida biasanya dilakukan di sawah-sawah guna mengusir hama tikus. Atau saat petani menyemprotkan insektisida di sawah-sawah untuk mematikan hama wereng. Kini aerosol atau semburan asap putih itu bisa memenuhi rumah-rumah. Memang berabe, namun demi kesehatan lingkungan, rumah pun harus direlakan dibombardir dengan semburan asap putih berbau minyak tanah. Penghuni harus menyingkir beberapa saat, bahkan bisa dalam hitungan jam. Berbahayakan bagi manusia?

Namanya juga insektisida, pasti ada risikonya. Bukan terhadap nyamuknya saja, namun akumulasinya pun bisa mengancam kesehatan manusia. Apalagi jika dosis tinggi atau terakumulasi dalam tubuh manusia. Lalu, bahan kimia apa sih yang disemprotkan itu?

Jenis insektisida yang digunakan pada fogging melawan nyamuk (sumber: WHO)

Klasifikasi bahaya bahan aktif atau Active Ingredient (Ai) pada standar WHO adalah: “Class II, moderately hazardous; class III, slightly hazardous; class U, unlikely to pose an acute hazard in normal use”. Itulah mengapa dosis insectisida pada fogging termasuk faktor yang tertuang dalam standar prosedur. Selain bertujuan mematikan nyamuk secara efektif – jangan sampai mereka malah kebal- dosis insektisida perlu dikendalikan agar tidak berdampak negatif pada kesehatan manusia dan lingkungannya.

Fogging bertujuan untuk mematikan nyamuk dewasa, setidaknya nyamuk yang sudah bisa mengudara. Bukan telur atau jentiknya, yang pada saat yang sama mungkin bersemayam aman di menara air atau genangan air yang tidak bisa ditembus asap. Fogging menjadi opsi terakhir ketika wabah deman berdarah terjadi di satu wilayah. Tindakan kuratif terhadap lingkungan yang banyak nyamuk, yang patut diduga sebagai vector atau pembawa virus yang bisa membuat manusia menderita. Kata WHO: “Space spraying of insecticides (fogging) should not be used except in an epidemic situation”. Prosedur standar pun diberlakukan, sebelum dan sesudah tindakan fogging, termasuk spesifikasi dan kalibrasi alat penyemprot.

Fogging memang harus dilakukan hati-hati dan cermat, sesuai dengan prosedur standar dari dinas kesehatan yang mengacu ke standar WHO. Manusia, alat, bahan, dan kondisi lingkungan harus ditelaah sebelumnya. Misalnya, arah angin pun bisa menjadi faktor yang dipertimbangkan. Pun dosis insectisidanya harus pas. Jika tidak, fogging bisa membuat nyamuk malah kebal atau resisten terhadap insektisida.

Fogging memang tidak dilakukan sembarangan, dan bukan tindakan yang selalu direkomendasikan, kecuali memenuhi syarat. Bagaimana pun tindakan preventif untuk mencegah merajalelanya nyamuk seharusnya menjadi priroritas. Menurut WHO, ada beberapa tindak pengendalian yang bisa dilakukan, selain Insecticide spraying, yaitu: Chemical treatment of breeding sites, Biological control, Environmental management and vector control, dan Community mobilization. Contohnya, kita tabur abate di penampungan air agar jentik tidak sempat bermetamorfosa menjadi nyamuk. Kita tanam ikan agar bisa menelan jentik, atau ada bakteri parasit bagi jentik.

Kita mengenal pula istilah 3M Plus yang sering dikampanyekan, yaitu Menutup, Menguras, Mengubur, dan Menggunakan anti nyamuk terpercaya. Namun, kasus demam berdarah tetap sering terjadi berulang-kali. Adakah yang salah dengan tindakan kita, baik pemerintah maupun warga di Indonesia?

Tindak yang lebih efektif, namun masih sulit implementasinya di Indonesia adalah pengendalian lingkungan dan mobilisasi warga secara masif, serentak, dan berkelanjutan. Kesadaran kolektif dan tindakan bersama belum terlihat dalam pencegahan Demam berdarah. Indonesia seolah pasrah dengan perubahan cuaca. Ketika musim hujan meninggalkan genangan air maka serangan nyamuk pun mengancam.

Indonesia dikenal sebagai negara paling sering kena wabah Demam Berdarah. Menurut catatan WHO, Indonesia tergolong wilayah dengan kasus wabah dengan frekuensi dan tingkat kematian tinggi, yakni dengan 58065 kasus dan 504 meninggal pada tahun 2011, seperti tercantum dalam Report of The Eighth Meeting of The Global Collaboration for Development of Pesticides For Public Health, yang dirilis oleh WHO pada tahun 2012. Indonesia dikenal sebagai negara pertama yang terkena virus Dengue yaitu pada tahun 1968. Tidak heran jika negeri ini masuk dalam peta versi DengueMap, yang dirilis oleh jaringan kolaborasi antar rumah sakit di dunia.

Peta dunia penyebaran Dengue (Sumber: www.healthmap.org/dengue)

Menurut Dr Ronald Rosenberg pada laporan WHO tahun 2012, sekitar satu milyar penduduk dunia menghadapi risiko tinggi terinfeksi virus dengue dan lebih dari 50 juta penduduk terinfeksi per tahun. Penyebaran virus tersebut seiring dengan laju urbanisasi, ketidakcukupan pasokan air, dan perubahan iklim. Wilayah penyebaran virus tersebut terkonsentrasi di daerah tropis dan sub tropis. Menurut laporan WHO terakhir, Indonesia masih menghadapi kendala dalam pemberantasan demam dengue, yakni belum adanya obat atau vaksin khusus, rendahnya partisipasi masyarakat, pengawasan yang kurang intensif, laju kasus fatal di beberapa wilayah, dan keterbatasan anggaran.

Mudah-mudahan fogging tidak sering lagi. Bukan tidak mau repot lagi, namun program pengelolaan dan pengendalian lingkungan sudah cukup efektif untuk mencegah nyamuk merajalela di Indonesia.

Budi Hermana

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu