dalam kategori | Penyakit

Enam Strategi Perang melawan Kanker stadium Tak Tertolong. Bagian 4

Enam Strategi Perang melawan Kanker stadium Tak Tertolong. Bagian 4

Peperangan anda terhadap kanker membutuhkan kekuatan mental sebanyak fisik anda. Itu dimulai dengan sebuah komitmen dalam diri anda untuk menjalankan perang. Hanya mereka yang memutuskan dalam benak mereka untuk berperang yang memiliki kesempatan menang.

Prinsip Kelima — Pertahankan Semangat

Dalam bukunya yang berjudul Anatomy of an Illness, Norman Cousins menceritakan kisah bagaimana ia dengan sukses mengalahkan penyakit parah yang mengancam untuk segera membawanya ke alam baka:

Orang-orang menanyai saya apa yang saya pikirkan ketika diberitahu oleh spesialis bahwa penyakit saya itu progresif dan tak tersembuhkan. Jawabannya sederhana. Karena saya tidak menerima keputusan itu, saya tidak terjebak dalam lingkaran ketakutan, depresi, dan panik yang sering mengikuti suatu penyakit yang diduga tak dapat disembuhkan. Walau begitu, saya tidak harus membuatnya kelihatan bahwa saya tidak serius memikirkan masalah itu atau bahkan saya sedang melaluinya dalam suasana pesta. Menjadi tidak mampu menggerakkan tubuh saya adalah semua bukti yang saya perlukan bahwa para spesialis itu sedang berhadapan dengan masalah yang sebenarnya. Tapi jauh di dalam lubuk hati, saya tahu saya memiliki satu kesempatan baik dan menyukai ide untuk melawan tantangan.

Cousins adalah satu dari banyak orang yang telah sukses menghadapi penyakit-penyakit yang mengancam-kehidupan dan diagnosis-diagnosis yang suram yaitu pertama-tama memutuskan dalam benak mereka bahwa mereka akan melakukan perang. Dokumen-dokumen dan rak buku saya dipenuhi dengan kisah-kisah demikian.

Sebuah kliping koran yang belum lama saya miliki menceritakan tentang seorang wanita yang berhadapan langsung dengan sebuah kasus kanker payudara yang buruk. Tampaknya ia telah meminta para ahli bedahnya agar membiarkannya menonton tayangan-ulang mastektomi gandanya. “Ketika melihat ukuran tumor, saya tahu apa yang saya perangi,” katanya. “Itu bukanlah sel yang menyebar. Itu adalah musuh yang dapat dibasmi yang saya tahu akan membunuh saya.”

Selama periode penyembuhannya di rumah sakit ia mempelajari semua penelitian kanker yang tersedia baginya di perpustakaan rumah sakit. Dalam proses itu, ia mendapati dua hal yang sangat menarik. Pertama, di Jepang, Cina, Thailand, dan Filipina rendahnya angka kanker payudara berkaitan dengan pola makan rendah lemak dan tinggi serat. Kedua, beberapa penelitian telah mendapati hubungan antara pertumbuhan sel-sel kanker dengan berkurangnya transfer oksigen di dalam sistem darah.

Dipersenjatai dengan informasi dan harapan, dia menguatkan keputusannya untuk berperang. Vegetarian menjadi pola makannya, olahraga menjadi kegemarannya. “Saya mulai merasa enak dan mendapatkan kembali kontrol terhadap kehidupan saya,” katanya. Itu adalah delapan tahun yang lalu. Hari ini tidak ada lagi jejak kanker. Dia memenangkan perang karena dia memutuskan untuk berperang.

Kesehatan dan kesembuhan, memerangi penyakit dan menang — ini bukan hanya masalah mekanik tubuh dan teknologi kedoteran. Bukan pula masalah nasib baik atau buruk. Semangat orang itu juga harus ada — pikiran, emosi, keinginan untuk hidup.

Pada tahun-tahun terakhir Bernie Siegel, M.D., telah jadi terkenal di antara para pejuang kanker akan bukunya Love, Medicine and Miracles. Tesisnya yang utama dalah bahwa penderita kanker memiliki kesempatan yang jauh lebih banyak untuk mengalahkan penyakitnya jika dia membangun emosi, siap untuk berperang langsung dengan musuh. Dia menulis bahwa sekelompok ilmuwan peneliti di London “baru saja melaporkan harapan hidup sepuluh-tahun kedepan sebesar 75% di antara penderita kanker yang bereaksi terhadap diagnosis dengan suatu ‘semangat perang,’ dibandingkan dengan 22% di antara mereka yang menanggapinya dengan pasrah atau perasaan tidak tertolong atau tiada harapan.”

Jadi, ada hubungan yang kuat antara pikiran dan tubuh; ikatan yang nyata antara roh/semangat manusia dengan kesehatannya. Hippocrates mengenalinya ribuan tahun yang lalu. Dia dikenal menghargai pentingnya menolong pasien melalui pikiran pasien itu seperti yang dia lakukan terhadap tubuhnya. Raja Israel kuno Salomo, yang dianggap banyak orang sebagai manusia paling bijaksana yang pernah hidup, mengungkapkan pemahaman serupa tentang hubungan pikiran-tubuh dalam tulisan-tulisannya. Dia mengamati, “Semangat manusia dapat menahan dia dari penyakitnya, tetapi dengan semangat yang hancur, siapa yang dapat bertahan?”

Penelitian ilmiah yang mahal mengungkapkan bahwa stres kronik dan emosi negatif (kekuatiran, ketakutan, kecemasan, kepahitan, kemarahan, dan lain-lain.) dapat menyebabkan ketidak-seimbangan hormonal dan kimiawi dalam tubuh yang mengakibatkan suatu metabolisme yang subur bagi perkembangan kanker. The British Medical Association menyatakan bahwa tidak ada satu sel pun di dalam tubuh yang secara total terhindari dari pengaruh pikiran dan emosi.

Hari ini ahli-ahli seperti Dr. Bernie Siegel, Norman Cousins, dan banyak lainnya sedang membantu mengembalikan dunia kedoteran modern pada pemahaman bahwa di dalam setiap kita, hubungan “pikiran-tubuh” yang kuat mempunyai pengaruh yang berarti bagi kesehatan kita. Kita sedang belajar bahwa kita perlu mengukur temperatur emosi kita setiap hari, berkeinginan menghadapi emosi-emosi yang toksik dan stres-stres negatif yang dalam jangka panjang bisa mempunyai dampak buruk pada sistem metabolik kita. Itu akan seperti sabotase di dalam perang kita terhadap kanker.

Dalam perjuangan saya sendiri melawan kanker, sikap-sikap berikut ini telah menolong saya untuk menjaga semangat/roh saya terdetoksifikasi dan dikenyangkan dengan tepat.

  • Mengambil alih
  • Menolak berperan sebagai korban
  • Berkata tidak pada perbudakan
  • Memanjatkan rasa syukur
  • Mencari humor
  • Menetapkan tujuan-tujuan

Mengambil Alih

Kelihatannya aneh, bahkan saat menghadapi maut, perasaan takut gagal menyebabkan beberapa orang tidak berani mengambil alih peperangannya sendiri terhadap kanker.

Dr. Siegel mengamati bahwa “60-70% penderita kanker adalah seperti aktor-aktor yang sedang audisi untuk suatu peran. Mereka bertindak seperti yang mereka kira diinginkan dokter untuk mereka lakukan, berharap bahwa dokter itu kemudian akan melakukan semua pekerjaan mereka dengan baik dan obat-obatan tidak akan terasa tidak enak. Mereka akan meminum tablet-tabletnya dengan setia dan datang pada pemeriksaan-pemeriksaan yang dijadwalkan. Mereka akan melakukan apa saja yang dikatakan dokter tapi mereka tidak membuat rencana pribadi untuk melakukan hal-hal yang mereka rasa benar. Ini adalah tipe orang-orang yang pasif, alih-alih secara aktif bekerja untuk memperoleh kesembuhan.”

Saya tahu perasaan-perasaan itu. Untuk sesaat setelah saya didignosis, prognosis saya dingin. Saya tidak tahu apakah orang lain telah dapat disembuhkan dari kanker yang sudah seseparah yang saya alami. Apakah perjuangan saya tidak akan sia-sia? Pasti, saya akan sepenuhnya mengikuti semua pengobatan yang dianjurkan onkologis saya. Tetapi itu saja tidak akan memerangi peperangan. Itu akan menjadi langkah bermain dengan aman. Itu akan membuat hal-hal terjadi pada saya namun bukan oleh saya. Apabila pengobatannya gagal dan saya mati, bukan saya yang menyebabkan kegagalan. Itu adalah kesalahan onkologis saya. Atau itu akibat tidak kuatnya terapi-terapi untuk memerangi kanker. Tetapi itu bukan kegagalan saya. Sepertinya saya ingin bersembunyi di belakang dokter.

Namun demikian, dokter saya telah menyadarkan saya pada suatu fakta bahwa yang dapat dilakukannya terbatas. Dia telah menceritakan kepada saya bahwa kemoterapi hanya akan bekerja sebentar sebelum kanker menjadi resisten. Dia telah meramalkan bahwa saya akan mati dalam dua tahun dengan menjalani tipe terapi yang dia dapat tawarkan. Dia berkata, “Anne, saya tidak dapat menyembuhkanmu, tapi mungkin saya dapat menjaga hidupmu cukup lama agar kamu belajar bagaimana menyembuhkan dirimu sendiri.”

Itu jelas bahwa jika saya ingin bertahan hidup, saya harus bekerja keras mencapai kesehatan dan kesembuhan. Saya harus berupaya sampai ke batas pengobatan yang dapat ditawarkan pada saya. Namun seperti yang saya katakan, saya sedang berjuang mengatasi rasa takut gagal. Akhirnya, ini sudah kanker stadium empat. Yang terburuk! Apa jadinya kalau saya mengusahakan yang terbaik tapi hasilnya hanya sesaat? Sepanjang hidup saya tumbuh dan telah terbiasa untuk kurang semangat juang daripada melakukan yang terbaik, takut bahwa upaya terbaik saya itu tidak cukup baik.

Suami saya menolong saya melihat hal-hal dalam suatu pandangan yang baru. “Tubuhmu seperti sebuah taman yang Tuhan perintahkan untuk dipelihara,” katanya. “Sekarang, taman itu penuh dengan alang-alang. Pekerjaanmu sampai Dia mengklaim kembali taman itu, adalah melakukan bagian tugasmu yang terbaik untuk menyingkirkan alang-alang dan menumbuhkan tanaman yang baik. Kegagalan bukan berarti mengembalikan taman itu dalam keadaan mati (sekarat),  yang cepat atau lambat akan terjadi pada kita semua, tetapi jika engkau kurang berupaya melakukan yang terbaik sewaktu taman itu masih menjadi milikmu.”

Ilustrasinya yang sederhana membantu memperjelas peran saya dalam perang yang sedang berlangsung untuk tubuh saya. Perasaan takut akan kegagalan saya tergantikan dengan perasaan tanggung jawab, perasaan pemeliharaan. Selama saya memiliki tubuh ini, saya bertanggung jawab untuk bekerja bagi kesehatannya.

POKOK PERTIMBANGAN

Kesehatan yang baik tidak datang dengan begitu saja; anda harus mengusahakannya.
— Charles B. Simone, M.D., Cancer and Nutrition

Pertanyaan utama yang harus kita jawab adalah apakah kita benar-benar ingin menolong diri kita sendiri … Ketika praktek di Plymouth, saya sangat terbiasa mengatakan kepada pasien, “Lihat-kalau anda tidak menjaga kebiasaan makan atau gaya hidup, anda akan selalu sakit dengan masalah utama ini dan akan harus minum obat untuk membuat tetap nyaman sepanjang sisa hidup anda.” Biasanya, setelah terdiam sebentar untuk berpikir, jawaban mereka adalah, “Berikan saya tablet-tablet itu.”
— Alec Forbes, M.D., The Famous Bristol Detox Diet for Cancer Patients

Menolak Berperan Sebagai Korban

Jika anda ingin punya kesempatan untuk mengalahkan kanker, anda harus memasuki peperangan dengan keyakinan yang teguh bahwa anda akan melakukan segala yang memungkinkan untuk menang — bahwa anda akan menjadi pemenangnya, bukan korbannya. Sikap seorang penderita kanker yang memainkan peran sebagai korban adalah sangat destruktif. Mereka yang melakukannya cenderung menerima dengan pasif apa yang dikatakan kepada mereka bahwa nasib sudah tidak terelakkan. Mereka cenderung menerima apa yang dikatakan pada mereka, sekarat tepat seperti yang dijadwalkan, sesuai dengan prognosis mereka. Istilah korban menyatakan bahwa orang lain harus merasa kasihan terhadap mereka, merawat dan membuat keputusan-keputusan bagi mereka.

Sebaliknya, ada individu-individu yang, tidak perduli apa kemungkinan prognosis mereka, menolak dicap sebagai korban. Dr. Siegel menganggap orang-orang ini sebagai “pasien-pasien yang berbeda,” dan mengamati bahwa 15 sampai 20 persen penderita kanker cocok dengan gambaran ini. “Mereka mendidik dirinya sendiri dan menjadi spesialis di bidang perawatan mereka masing-masing. Mereka menanyai dokter karena mereka ingin memahami pengobatan mereka dan berpartisipasi di dalamnya. Mereka menginginkan ketekunan, pendekatan pribadi, dan pengendalian, tidak perduli apa tingkat keparahan penyakit.”

Jika akan mengalahkan penyakit ini secara efektif, anda tidak boleh berperan sebagai korban yang pasif. Kalau anda melakukannya, kanker akan mengalahkan anda. Dia akan mengambil apa yang anda berikan, dan tetap mengambil, sampai akhirnya tidak ada lagi yang dapat diambilnya dari anda.

Sebagai bagian dari program terapi, onkologis saya membuat kaus bagi para pasiennya dengan logo “Tendanglah Kanker.” Tiga kali seminggu kami berkumpul di klub kesehatan setempat untuk mengendarai sepeda dan mengangkat besi. Maaf, “Korban” tidak boleh masuk. Hanya untuk para pejuang! Seorang wanita lain di dalam grup berkomentar, “Ini adalah suatu hal yang dapat saya lakukan sendiri yang membantu saya merasa seperti saya yang pegang kendali.” Dia masih belum mengerti terhadap hal-hal lain yang dapat dia kerjakan, tapi ini adalah sebuah awal yang baik. Dia mulai berjalan menjauh dari perasaan sebagai korban — ke arah menjadi pemenang.

Para Profesional lain di bidang pengobatan kanker mengenali kedahsyatan efek olahraga dalam menolong orang-orang menyingkirkan perasaan menjadi korban. Simontons menulis,

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang menjalani program olahraga secara teratur (terutama, kombinasi antara jalan-kaki dan lari) cenderung menjadi lebih fleksibel dalam pemikiran dan keyakinannya, perasaan keberdayaan-diri mereka cenderung meningkat, konsep-diri dikuatkan, penerimaan-diri membaik, cenderung tidak menyalahkan orang lain, dan berkurangnya depresi. Gambaran keseluruhannya adalah bahwa pada umumnya orang-orang yang mengikuti program olahraga secara teratur cenderung memperlihatkan profil psikologis yang lebih sehat-orang itu seringkali memiliki prognosis yang baik dalam perjalanan penyakit keganasannya.

Berkata Tidak Pada Perbudakan

Institut Kanker Nasional sudah menyerukan selama bertahun-tahun bahwa merokok dapat dan benar-benar menyebabkan kanker. Di Amerika Serikat, kurang lebih 460.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat kanker, perkiraan kasarnya 30 persen berhubungan dengan penyakit akibat rokok. Tahun ini dan tahun depan, dan tak diragukan lagi dalam tahun-tahun mendatang, hampir 140.000 orang akan menyerahkan nyawanya hanya karena mereka menolak untuk tidak menjadi budak rokok.

Setelah rokok, di Amerika Serikat, makanan menyebabkan lebih banyak kanker daripada lainnya. “Diet adalah pembunuh ke 2 orang-orang Amerika,” kata Dr. Michael McGinnis, dari Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat  Amerika Serikat . Ini juga, dapat memperbudak. Saya baru saja bicara dengan seorang penderita kanker setelah dia menemui nutrionisnya. “Saya menemukan bahwa diet memberi makan kanker saya,” katanya, “tapi saya tidak tahu apakah hidup ini masih layak dijalani kalau saya tidak boleh makan steik.” Saya telah memperhatikan bahwa kita cenderung secara emosional diperbudak makanan yang kita makan, banyak penderita kanker yang lebih suka terus melakukan hal-hal yang buruk pada diri mereka daripada membuat keputusan mengubah kebiasan makannya. Kita lebih siap memposisikan tubuh kita pada pemotongan, pembakaran, dan peracunan (pembedahan, radiasi, kemoterapi) daripada melakukan sesuatu yang benar-benar “radikal” dan mengerikan seperti memilih untuk makan yang lebih sehat.

Meski saya terpaksa menjalani terapi nutrional, saya menemukan bahwa kehidupan masih tetap baik, walaupun saya tidak dapat memakan makanan yang biasa saya makan. Saya juga membuat penemuan yang luar biasa bahwa citarasa dapat benar-benar diubah. Sekarang setiap harinya, jika saya dengan konsisten melakukan apa yang saya ketahui baik dan benar bagi kesehatan fisik melalui diet saya, kondisi emosi saya meningkat. Sebuah lingkaran semangat terbentuk. Melakukan yang benar untuk tubuh membantu moral saya. Moral yang baik menolong tubuh saya untuk berperang lebih efektif terhadap kemungkinan kembalinya kanker.

Mengucapkan Rasa Syukur

Ucapan syukur bukanlah suatu sikap yang mudah berkembang, terutama jika dalam posisi terkunci di dalam peperangan yang mematikan kehidupan anda. Bahkan lebih sulit lagi jika ada keterlibatan amarah terhadap orang-orang yang kelihatannya memainkan peran dalam kesulitan anda. Saya sangat kecewa terhadap dokter keluarga yang salah mendiagnosa kanker saya selama satu tahun. Saya marah kepada dokter ruang gawat darurat yang tampaknya mengira rasa sakit itu hanya ada di kepala saya saja. Saya marah kepada dokter manografi yang, meyakinkan saya dengan pernyataan bahwa benjolan-benjolan saya pasti bukan kanker.

Saya marah kepada banyak orang. Membiarkan kemarahan saya tak terkontrol akan menyebabkannya membusuk dan terfermentasi, menghancurkan kemampuan saya untuk memfokuskan secara efektif dalam upaya memperoleh kembali kesehatan saya. Kemarahan itu seperti kanker di dalam pikiran, melahap energi emosi seseorang. Persis seperti tubuh saya, pikiran dan semangat saya membutuhkan detoksifikasi. Semua racun emosi di kepala saya perlu dikeluarkan sebelum tubuh saya dapat bekerja secara efektif ke arah kesembuhan.

Jadi saya menghadapi kemarahan dengan suatu cara yang berhasil pada saya. Saya mengeluarkan semua kemarahan itu di atas kertas. Saya telah membuat jurnal selama bertahun-tahun. Selanjutnya pembuatan jurnal menjadi cara saya untuk mengenali dan melepaskan emosi saya yang merusak itu.

Pertama-tama saya menulis surat ke semua dokter yang telah merawat saya dengan. Saya benar-benar mengirimkan surat-surat kemarahan ini kepada doter keluarga agar dia tahu betapa dia telah mengecewakan saya.

Kemudian saya menulis surat untuk Tuhan, melepaskan kemarahan dan kekecewaan saya padaNya karena membiarkan semua hal yang mengerikan ini terjadi pada saya. Saya tahu bahwa saya tidak ingin lama-lama marah kepadaNya, sebab saya mengasihi Dia. Saya juga tahu bahwa mengeluarkan perasaan itu penting bagi saya.

Bagi saya, kemarahan itu semacam terapi untuk mencari jawaban atas hal-hal yang tak teruraikan. Saya melihat ada persoalan spesifik yang mendasari emosi saya dan harus diatasi dengan cara yang spesifik pula. Misalnya, saya menyadari bahwa Tuhan tidak menyebabkan kanker saya atau mengharap hal itu terjadi pada saya, tetapi hukum alam yang menyebabkannya terjadi. Sama pastinya dengan “apa yang naik harus turun” atau “sapi tidak bisa terbang,” diet juga berdampak pada kesehatan. Prinsip kitab suci yang mengatakan bahwa “manusia menuai apa yang dia tabur” sesuai dengan hubungan antara kesehatan dan diet. Ungkapan “anda adalah apa yang anda makan” itu benar. Tuhan sangat berkuasa dan dapat melindungi saya dari berkembangnya penyakit degeneratif yang terkait-dengan-diet, tetapi Dia juga jarang melanggar hukum alamiah yang telah digariskanNya.

Saya kira saya dapat terus marah kepada Tuhan karena saya tidak dikecualikan terhadap peraturan-peraturanNya, namun saya mulai terbuka melihat tanggung jawab saya pribadi atas seluruh masalah ini. Memang, beberapa dokter yang terpaksa saya kunjungi telah memberikan pengobatan yang kurang memuaskan. Tetapi dokter-dokter itu juga manusia yang tidak sempurna. Persis seperti montir mobil, montir tubuh juga terkadang membuat kesalahan. Kesadaran itu penting bagi saya, baik secara emosional, fisik, dan spiritual untuk sampai ke suatu titik di mana saya dapat berkata dengan jujur bahwa saya, di dalam hati, bisa memaafkan mereka. Ini sukar, tetapi perlu dilakukan untuk kebaikan saya sendiri. Membaca kitab suci membantu dan mengingatkan saya akan semua kesalahan dan kekeliruan saya, yang telah dimaafkan oleh Dia.

Sementara saya bekerja menyingkirkan racun-racun kemarahan dari diri saya, ada juga hal lain yang mengganjal, yaitu berhubungan dengan sikap yang mengasihani diri saya sendiri. Perasaan bahwa sepertinya apa yang telah saya miliki dalam kehidupan ini telah diambil atau dirampok. Saya kehilangan payudara dan sejumlah harga diri saya sebagai seorang wanita. Rambut saya rontok akibat kemoterapi, dan saya terpaksa mengalami kehinaan karena pada dada saya tergantung sebuah pipa limabelas inci, yang membuat saya seperti robot. Ini benar-benar tidak adil.

Lalu pada suatu hari, di awal perang melawan kanker, saya membaca sebuah artikel tentang seorang laki-laki yang telah menjalani pembedahan untuk mengangkat hidungnya, yang telah digerogoti kanker. Gambar dari wajahnya yang buruk juga dimuat disana. Kisah sedihnya itu mengingatkan saya bahwa seberapapun buruknya situasi yang saya alami, orang lain akan selalu kelihatan mengalami yang lebih buruk. Mungkin itu bukan motivasi yang mulia, tapi itu berhasil bagi saya.

Sejak hari itu saya membuat daftar secara rutin di dalam jurnal tentang hal-hal yang harus saya syukuri kepada Tuhan. Sangat luar biasa apa yang dilakukan rasa syukur itu kepada diri dan semangat saya. Saat saya meratapi kehilangan atau merasa kasihan terhadap diri sendiri, saya sering teringat pada orang yang tak punya hidung tadi. Saya berharap agar dia juga menemukan cara untuk mengembalikan semangatnya ke arah pengucapan syukur.

Berikut adalah sebuah masukan yang saya buat dalam jurnal setelah saya berkomitmen untuk berterima kasih:

Suatu hari, ketika duduk di tempat praktek dokter keluarga, saya melihat seorang wanita korban luka bakar. Saya dapat melihat bahwa bagian-bagian wajahnya, leher, dada, dan lengannya yang buruk. Hal yang terpancar dari orang ini adalah kemarahan. Semua hal tentang cara dia berjalan, bicara, membanting pintu, dan memperlakukan orang-orang menyiratkan pesan, “Saya adalah seorang korban. Saya marah, dan setiap orang di sekeliling saya akan menderita karenanya.”

Hal ini menumbulkan kesan yang mendalam pada saya. Pertama, saya menyadari bahwa kita sendirilah yang memilih bagaimana kita bersikap, akan menjadi orang seperti apa kita ini, bukan ditentukan oleh keadaan sekeliling kita. Wanita ini memilih kemarahan dan mencoba menghukum orang-orang di sekelilingnya. Saya memilih untuk mengasihi dan menerima, dan bahkan sukacita dan damai. Sumber saya adalah Tuhan dan kehidupan yang saya serahkan padaNya duapuluh tahun yang lalu. Saya memilih untuk menjadi saluran kasihNya yang memberi kenyamanan bagi orang-orang di sekeliling saya.

Kedua, itu mengingatkan bahwa saya patut bersyukur kepada banyak hal. Ya, saya mengalami keburukan di perjalanan hidup saya, tapi ada orang lain yang mengalami lebih buruk dari yang saya alami. Saya punya banyak hal untuk disyukuri. Intinya adalah, saya memilih apa yang terpancar dari saya yaitu pengucapan syukur yang murni. Setiap hari saya akan menghitung apa yang telah diberikan, bukan apa yang telah diambil.


POKOK PERTIMBANGAN

Mengabaikan Tuhan sekejap saja dalam kehidupan seseorang adalah suatu kebodohan yang sukar saya pahami; mengabaikaNya di saat menghadapi penyakit dan penderitaan adalah lebih dari kebodohan.
— Dr. Richard O. Brennan, Coronary? Cancer? God’s Answer: Prevent It!

Menemukan Humor

Saya menemukan pernyataan ini di dalam sebuah buku di rumah: “Para ahli medis mengatakan pada kita bahwa tertawa itu sehat. Sebenarnya, menahan tawa itu tidak baik.

Sebuah substansi menyerupai morfin yang dihasilkan oleh otak manusia, namanya endorfin, bertindak sebagai zat anestesi dan relaksan alamiah. Ketika endorfin masuk ke aliran darah, seseorang mengalami peningkatan perasaan sehat. Tertawa menstimulasi pelepasan endorfin. Humor memiliki cara untuk mengusir racun emosional dari fikiran, meninggikan semangat, dan membuat prespektif baru terhadap masalah kehidupan. Raja Salomo juga menulis, “Hati yang gembira bekerja seperti obat, tetapi semangat yang patah membuat seseorang sakit.”

Dalam upaya menambahkan tawa ke dalam gudang senjata perang anti kanker, saya mulai mencari humor di mana saja yang dapat saya temui. Saya memakai jurnal untuk mencatat petikan-petikan humor yang berhubungan dengan keadaan saya. Misalnya, menjadi botak itu tidaklah buruk. Pikirkan banyaknya uang yang dapat saya tabung dari shampo dan biaya potong rambut.

Dalam beberapa kasus saya mencoba menciptakan humor. Ibu saya, saudara saya, dan saya mengubah perburuan dalam mencari rambut palsu menjadi pengalaman yang amat sangat lucu, dan merekamnya untuk jangka panjang. Kami membawa serta sebuah kamera ke suatu butik rambut palsu dan mengambil gambar bagaimana menampilan kami menjadi “Cher” atau “Dr. Ruth.”

Saya juga mengimpor humor dari dunia di sekitar saya. Saya menonton film-film lucu, membaca komik di koran, menonton pertunjukan-pertunjukan lucu di televisi, dan mendengarkan acara humor di radio. Dengan pertolongan keluarga, saya berusaha menciptakan lingkungan humor dan keriangan hati yang akan membalik efek dan emosi negatif dari kanker. Tidak ada hal lain yang menyaingi keampuhan tawa  dalam mengurangi stres dan mulai mengubah kimiawi tubuh.

Norman Cousins menulis,

Beberapa orang, yang tertawanya tidak terkontrol, mengatakan tulang iganya nyeri. Gambaran tersebut mungkin tepat, tetapi itu adalah “nyeri” yang enak yang membuat seseorang rileks. Itu juga semacam “nyeri” yang biasa dialami kebanyakan orang setiap hari dalam kehidupannya. Hal itu adalah sesuatu yang spesifik dan nyata seperti bentuk latihan fisik lainnya. Meskipun manifestasi biokimiawinya belum secara eksplisit terdata dan dipahami sebagai efek ketakutan atau frustrasi atau kemarahan, tapi mereka itu cukup nyata.

 

Menetapkan Tujuan (Terapi Impian)

Ketika pertama kali kami diberitahu bahwa waktu saya mungkin hanya tinggal sesaat, kahidupan kami seakan-akan berhenti. Kehidupan terhenti sewaktu kami mencoba membayangkan bagaimana orang-orang mengatur untuk dapat melanjutkan kehidupan sehari-hari dengan ancaman yang tampak jelas di atas kepala mereka. Semua hal dalam kehidupan kami menjadi begitu berat, begitu membingungkan, dan pada saat yang sama semangat kami untuk melanjutkan hidup terhenti.

Titik balik itu datang saat kami memutuskan untuk menetapkan tujuan-tujuan yang dicapai dalam waktu yang masih tersisa untuk saya. Suami saya menyebutnya sebagai “terapi impian.” Bersama-sama kami menelaah hal-hal yang selalu ingin kami lakukan atau selesaikan, namun tertunda sampai “suatu hari nanti.” Tiba-tiba, “suatu hari” itu datang. Ancaman kanker telah memberi kami kesempatan untuk mengesampingkan hal-hal lain yang kurang penting dan bergerak lebih terarah ke tujuan yang kami inginkan.

Satu dari hal-hal yang paling membangkitkan semangat dan emosi adalah memulai bisnis saya sendiri. Bahkan sejak masa kanak-kanak, saat saya duduk berjam-jam dengan buku dan pensil merancang rumah impian, saya ingin menjadi seorang dekorator interior. Dengan cetakan brosur dan kartu nama, “Anne Elizabeth Decorating” diluncurkan. Saya tidak menghasilkan banyak uang, tapi itu bukan intinya. Mewujudkan impian saya dengan memulai bisnis dekorasi interior memberikan sumbangan emosi yang tidak pernah dapat dibeli dengan uang. Saya telah memiliki pekerjaan yang tepat untuk menjaga semangat saya terus-menerus tanpa membebani kekuatan fisik saya secara berlebihan. Saya menciptakan keindahan ke dalam dunia saya, yang pada gilirannya membantu membawa kesehatan ke dalam tubuh saya.

Betapa menakjubkan bagaimana kanker memberi “vonis kematian” tapi sebenarnya, bagi saya dan seluruh keluarga, malah mempercepat kehidupan yang nyata. Hal-hal yang selalu ingin kita lakukan menjadi kenyataan karena kita membuatnya jadi prioritas. Kami selalu ingin melakukan lebih banyak lagi aktivitas-aktivitas yang membangun kenangan bersama kedua anak kami, yang belum pernah sempat dilakukan sampai kanker memaksa kami menyediakan waktu untuk melakukannya. Sekali kami memutuskan bahwa tujuan kami adalah membuat kenangan, kami membeli sebuah kendaraan rekreasi tua. Betapa senangnya kami di dalam kotak tua itu!

Selama tinggal di rumah sakit ketika saya pertama didiagnosa terkena kanker, teman-teman membawakan serangkaian bunga, kartu-kartu, dan tanaman untuk mendekorasi kamar dan membangkitkan semangat saya. Seringkali hadiah-hadiah semacam ini hanya berdampak jangka pendek dan setelahnya terbuang. Bunga-bunga memudar, tanaman mati, dan sebagian besar besar kartu, setelah dibaca lebih dari sekali, dibuang. Meski demikian, dalam kasus ini, satu tanaman kecil dapat bertahan hidup dan masih bersama kami hingga hari ini, beberapa tahun kemudian. Diganti pot dan menjadi jauh lebih besar, sekarang tanaman itu menempati tempat yang utama di rumah kami yang setiap hari mengingatkan kami bahwa betapa pentingnya untuk terus menyirami impian-impian kita.

Saya tidak akan pernah melupakan hari saat saya pulang dari rumah sakit. Di dalam kotak surat ada sebuah surat. Setelah membuka amplopnya, saya menemukan sebuah undangan. Sewaktu membacanya, air mata bercucuran membasahi wajah saya. Di sana di selembar kertas yang terlipat, tertulis rapi dengan krayon, ada undangan pernikahan anak perempuan saya Jessica. Di bagian RSVP tertulis kata-kata “Harap datang.” Dia baru berusia sepuluh tahun — di sini tertulis kata-kata yang memberi alasan untuk hidup. Saya punya satu pesta kawin untuk dihadiri.

Proses memimpikan impian dan menetapkan tujuan-tujuan membuat saya terus bergerak maju dengan antisipasi yang lebih besar menuju masa depan saya. Ada sesuatu yang memberi hidup tentang itu, suatu regenerasi semangat terjadi di dalam. Setelah sekian waktu, setiap mimpi dan tujuan yang telah saya tulis sendiri tercukupi. Bahkan impian-impian yang saya anggap mustahil sudah terwujud. Jadi saya datang dengan mimpi-mimpi dan tujuan-tujuan baru.

Bagaimana dengan anda? Apa impian-impian anda, tujuan-tujuan anda, hal-hal yang selalu anda ingin lakukan atau penuhi, yang selama ini anda tunda sampai “suatu hari nanti”? Satu lagi pandangan penting tentang kehidupan dari Raja Salomo yang bijaksana: “Harapan yang tertunda membuat hati sakit, tapi jika impian-impian akhirnya menjadi nyata, ada kehidupan dan sukacita.”

Anne E. Frahm & David J. Frahm

Ini adalah bagian keempat dari serial Enam Strategi Mengalahkan Kanker Stadium Tak Tertolong, disarikan dari buku A Cancer Battle Plan: Six Strategies for Beating Cancer from a Recovered “Hopeless Case” . Edisi Indonesia: Melawan Kanker, alih bahasa: dr. Johannes Rubijanto Sulaiman , penerbit: PT. Mitra Media.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu