dalam kategori | Penyakit

Efek stroke tergantung pada bagian otak yang rusak

Efek stroke tergantung pada bagian otak yang rusak

Sebagian besar stroke terjadi akibat adanya penyumbatan aliran darah di arteri yang menuju otak. Ketika kondisi ini terjadi maka bagian otak yang tidak mendapatkan asupan darah cukup berisiko mengalami kerusakan, dan tidak bisa mengendalikan fungsi tubuh.

Kerusakan yang timbul bisa bersifat sementara atau permanen, sebagian saja atau keseluruhan tubuh. Semakin cepat penanganan yang diberikan, maka semakin cepat darah yang bisa menuju otak sehingga kerusakan bisa diminimalkan.

Otak adalah organ tubuh yang paling kompleks. Otak mengendalikan aktivitas fisiologis seperti detak jantung, sistem gerak, pernapasan, ingatan, suasana hati dan lain-lain. Bisa dikatakan otak adalah pusat kendali untuk bergerak, bernapas, berbicara, berpikir dan emosi.

Otak perlu mendapatkan asupan nutrisi dan oksigen yang cukup agar aliran darah di otak lancar. Kebutuhan otak akan pasokan darah segar sangatlah tinggi dibanding dengan organ-organ tubuh lainnya. Aliran darah tersebut membawa zat gizi, oksigen dan gula/glukosa. Dengan berhentinya pasokan darah ke otak walau hanya 1 menit saja bisa menyebabkan pendaharan otak karena pembuluh darah otak pecah disebabkan bekuan darah atau pengerasan pembuluh darah. Hal tersebut mengacaukan fungsi-fungsi otak, gejala ini yang disebut dengan Stroke. Jika pasokan darah terhambat lebih dari 4 menit maka akibatnya lebih fatal lagi.

Efek stroke tergantung pada bagian otak yang rusak. Otak dibagi menjadi empat bagian utama: belahan kanan, belahan kiri,  batang otak dan otak kecil.

1. Stoke belahan kanan otak

Belahan kanan otak mengontrol gerakan dan fungsi sensoris sisi kiri tubuh. Belahan ini juga mengontrol tugas-tugas analisis dan persepsi, seperti menilai jarak, ukuran, kecepatan, atau posisi dan melihat bagaimana bagian-bagian saling berkaitan dalam satu kesatuan. Mereka yang selamat dari stroke di belahan kanan otak dapat terkena gangguan sebagai berikut:

  • Kumpuhan (hemiplegia) atau kehilangan kekuatan (hemiparesis) di sisi kiri tubuh
  • Mati rasa dan kesemutan di sisi kiri tubuh (hemianestesia)
  • Penurunan kemampuan spasial dan persepsi sehingga salah menilai jarak, tidak dapat mengarahkan tangan untuk mengambil barang, menutup kancing baju atau mengikat tali sepatu.
  • Kehilangan wawasan dan tidak menyadari masalah. Hal ini bisa sangat berbahaya karena mereka bisa saja nekat berjalan tanpa bantuan atau bersikeras mengendarai mobil/motor, padahal memiliki gangguan fungsi gerak, persepsi dan spasial.
  • Kehilangan bidang visi sebelah kiri (hemianopia) sehingga “melupakan” atau “mengabaikan” benda atau orang-orang di sisi kiri.
  • Kehilangan memori jangka pendek. Meskipun mereka mungkin dapat menceritakan peristiwa yang terjadi 30 tahun yang lalu, tetapi tidak ingat siapa yang mereka temui pagi itu.
  • Bicara berlebihan, tidak jelas dan monoton (dysarthria)
  • Kesulitan menelan(disfagia)
  • Kesulitan mengenali wajah dan suara
  • Depresi dan mood swing (berubah-ubah perasaan)
  • Kecenderungan untuk sarkasme dan berperilaku yang dapat memalukan
  • Kehilangan persepsi waktu
  • Kesulitan dengan pemikiran abstrak (misalnya menimbang gagasan dan memecahkan masalah)

2. Stroke belahan kiri otak

Belahan otak kiri mengontrol gerakan dan fungsi sensoris sisi kanan tubuh. Belahan ini juga mengontrol kemampuan bicara dan bahasa. Mereka yang selamat dari stroke belahan otak kiri dapat mengalami gangguan berikut:

  • Kelumpuhan (hemiplegia) atau kehilangan kekuatan (hemiparesis) sisi kanan tubuh.
  • Mati rasa dan kesemutan di sisi kanan tubuh (hemianestesia)
  • Kesulitan berbicara dan berbahasa (disfasia/afasia), seperti menyebutkan nama benda dan menyampaikan pikiran, menulis, membaca atau memahami pembicaraan.
  • Terlalu lambat dan berhati-hati sehingga perlu instruksi dan umpan balik berulang-ulang untuk menyelesaikan tugas.
  • Kesulitan mengingat, mempelajari informasi baru, konseptualisasi dan generalisasi.
  • Kehilangan bidang visi kanan yang mempengaruhi kedua mata (hemianopia)
  • Bicara tidak jelas (dysarthria)
  • Kesulitan menelan (disfagia)
  • Kesulitan melakukan gerakan bertujuan (misalnya menyisir rambut)
  • Kebingungan antara kiri dan kanan
  • Mudah frustrasi dan kurang motivasi
  • Lamban dan kikuk
  • Cenderung mengulangi beberapa tindakan
  • Kesulitan strukturisasi dan perencanaan
  • Kesulitan mengingat dan menghitung angka

3. Stroke batang otak

Batang otak adalah bagian otak yang menghungungkan saraf-saraf dengan otak kecil dan tulang belakang di bawahnya. Batang otak memiliki sel-sel saraf khusus yang mengendalikan kesadaran, pernafasan, denyut jantung dan tekanan darah, panca indera dan otot-otot leher.

Karena isyarat-isyarat yang dihasilkan kedua belahan otak harus melalui batang otak untuk menuju ke tangan dan kaki, pasien stroke batang otak dapat mengembangkan kelumpuhan pada salah satu atau kedua sisi tubuh. Kemungkinan efek lain stroke batang otak adalah:

  • Koma dan gangguan kesadaran
  • Masalah pernapasan
  • Perubahan denyut jantung dan tekanan darah spontan
  • Mual dan muntah
  • Penglihatan ganda, karena satu mata tidak bisa bergerak bersamaan dengan yang lain
  • Hilangnya sensasi pada satu mata, satu sisi wajah, atau lidah
  • Pupil membesar atau melebar
  • Bicara tidak jelas
  • Masalah dalam menelan(disfagia)
  • Kesulitan koordinasi gerakan ketika mencoba untuk melakukan sesuatu.

4. Stroke otak kecil

Otak kecil terletak di bawah dua belahan otak dan di belakang batang otak (tepat di atas leher). Otak kecil berperan besar dalam mengendalikan dan mengkoordinasikan gerakan dan keseimbangan. Bila stroke terjadi pada otak kecil, gangguan berikut dapat terjadi:

  • Vertigo yang terjadi tiba-tiba, terus-menerus dan parah. Vertigo adalah pusing dengan sensasi berputar di sekitarnya yang menyebabkan mual dan muntah.
  • Gangguan gerak mata pada salah satu atau kedua mata, termasuk getaran bola mata (nistagmus), kelopak mata menutup (ptosis) dan pupil mengerut.
  • Gangguan motorik wicara yang disebabkan melemahnya otot-otot mulut, wajah dan sistem pernafasan.
  • Ucapan tidak jelas, lambat, monoton dan serak.
  • Kesulitan mengunyah atau menelan (disfagia) karena ketiadaan koordinasi atau melemahnya otot tenggorokan dan kerongkongan.
  • Kehilangan keseimbangan dan koordinasi saat berjalan (ataksia) sehingga berjalan limbung seperti orang mabuk.
  • Lunglai dan ketiadaan koordinasi pada satu atau kedua lengan sehingga kesulitan melakukan tugas, seperti mengambil dan memegang barang.

 

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu