dalam kategori | Penyakit

Edema Paru Menyerang Usia Lanjut

Edema Paru Menyerang Usia Lanjut

Istilah edema diartikan sebagai penumpukan cairan dalam jumlah abnormal di dalam rongga badan. Pembengkakan ini bisa menyerang bagian tubuh mana saja.

“Pembengkakan hasil akumulasi berlebihan di bawah jaringan kulit dan sebelah luar pembuluh darah,” kata Mark Scott Noah MD, spesialis penyakit dalam dari Cedars- Sinai Medical. Mekanisme penumpukan cairan yang disebabkan oleh masing-masing gangguan organ tidak sama.

Di samping itu, masing-masing kumpulan cairan yang terjadi di berbagai rongga juga berbeda istilah. Penumpukan di rongga dada disebut hidrotoraks, bila terjadi di rongga di antara jantung dan selaput pembungkusnya disebut hidroperikardium, sedangkan bila terjadi di rongga perut disebut hidroperitoneum.

Rongga terakhir itu lebih sering disebut asites. Adapun penumpukan cairan yang terdapat di paru-paru disebut edema paru-paru (lung edema). Lalu bagaimana fungsi pernapasan bila para-paru mengalami penumpukan cairan. “Normalnya, paru-paru berisi udara untuk bernapas, tetapi pada penderita edema di dalamnya berisi air,” tutur Ketua Dewan Asma Indonesia Prof Dr Faisal Yunus PhD Sp P(K) FCCP.

Di dalam paru-paru terdapat cabang-cabang yang disebut gelembung alveol berisi udara.Karena paru-paru berisi cairan,udara tidak bisa lewat. Oksigen yang akan masuk menjadi terhalang. Inilah yang menyebabkan gejala edema paru-paru adalah sesak napas. Selain gelembung alveol, bagian paru yang rentan mengalami penimbunan cairan adalah ruang intersisial yang terletak antara alveol dan pembuluh darah.

Sama seperti gelembung alveol bila dalam keadaan normal, tapi saat edema bagian ini berisi cairan pula. Penyebab edema paruparu ada dua, yaitu edema paru kardiogenik dan edema paru nonkardiogenik. Edema paru kardiogenik berarti ada kelainan pada organ jantung. Misalnya, jantung tidak bekerja semestinya seperti jantung memompa tidak bagus atau jantung tidak kuat lagi memompa.

Jantung memompakan darah ke seluruh tubuh, selain mengirimkannya memasuki paru-paru. Kemampuan jantung memompa untuk mencukupi kebutuhan tubuh menerima sejumlah oksigen sekaligus membersihkan sejumlah darah lainnya di paru-paru. Jika jantung tidak optimal memompa darah sudah berakibat sejumlah darah terhambat alirannya, sebagian tertahan di jantung,sebagian di paru-paru.

Adapun penyebab kedua edema paru karena nonkardiogenik atau kelainan paru paru di luar jantung. Gangguan ini disebabkan protein di dalam darah kurang dari kadar normal. Di dalam tubuh terdapat protein di dalam darah yang disebut albumin. Albumin berfungsi mengentalkan cairan, sehingga cairan di pembuluh darah tidak akan keluar. Kadar normal albumin di tubuh berkisar antara 3,5-5 mg/dl.

Apabila kurang dari 3,5 mg/dl mengakibatkan cairan keluar dari pembuluh darah. Berkurangnya albumin menyebabkan cairan encer sehingga merembes melalui pembuluh darah. Merembesnya cairan ini bisa dilihat pada membengkaknya beberapa anggota bagian tubuh. Salah satu penyebab kurangnya kadar protein adalah adanya kelainan ginjal. Seperti diketahui, ginjal berfungsi untuk menyaring dengan mengeluarkan cairan dan menahan protein.

“Jika ginjalnya berlainan, protein pun turut keluar.Kondisi loss protein menyebabkan intake protein berkurang. Selain itu, memang pasien kekurangan asupan protein dari makanan,” kata Prof Faisal. Selain asupan protein kurang, edema paru bisa karena infeksi yang menyebabkan gangguan permeabilitas.

Penderita pneumonia dan ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome) bisa berefek mengeluarkan cairan. Situasi ini pun bisa memengaruhi paru. Lalu siapa saja yang berisiko mengalami edema. Tentu saja orang-orang yang telah berusia lanjut.”Edema rentan menyerang pada usia geriatri, yaitu sekitar 60-65 tahun karena daya tahan tubuhnya semakin menurun,” kata profesor yang berpraktik di RS Persahabatan ini.

Segera Keluarkan Cairan

UNTUK menangani penumpukan cairan,langkah pertama adalah mengeluarkan cairan yang tidak semestinya berada di dalam organ tubuh. Teknik yang paling umum adalah dengan penyedotan.

Selain itu ada cara lain, seperti dieuretik, pemberian obat agar penderita mengeluarkan kencing yang banyak.Terapi ini bertujuan agar cairan ikut terbuang. “Pada dasarnya, penanganan edema dengan mengetahui penyebabnya dan penanganan segera. Selama penyebabnya belum diketahui atau tak bisa diatasi,proses penumpukan cairan akan terus berlanjut,” tutur Prof Dr Faisal Yunus PhD Sp P(K) FCCP.

Selain terapi dieuretik, bisa juga menggunakan alat yang mampu mendorong atau menekan cairan agar bisa keluar. Namun, Faisal menambahkan, edema bisa terulang akibat kondisi pasien, yaitu ketahanan tubuh pasien dan kondisi organ tubuh lain.

Peluang kesembuhan edema paru-paru dipengaruhi oleh berapa jumlah dan seberapa luas paru-paru yang tertimbun cairan. “Kondisi terburuk pasien adalah henti napas,” katanya.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu