dalam kategori | Tips Kesehatan

Dugem menyebabkan kerusakan pendengaran.

Dugem menyebabkan kerusakan pendengaran.

Hati-hati. Mungkin anda tak sadar, kebiasaan dihadapkan dengan musik yang disajikan dengan volume berlebihan di tempat-tempat berupa klab dan bar, yang biasa disebut dugem (dunia gemerlap), akan mengantar anda ke kerusakan pendengaran. Memakai alat sumbat telinga bisa menjadi salah satu pencegahannya. Di Inggris bahkan diadakan lomba merancang alat sumbat telinga yang modern sekaligus menjadi bagian dari fashion, supaya kaum muda sana tak malas memakai alat itu di tempat-tempat gaul tersebut.

Diberitakan oleh guardian.co.uk, menurut hasil penelitian belum lama ini yang diadakan oleh Royal National Institute for Deaf People (RNID), Inggris, gejala-gejala pertama dari kerusakan pendengaran–berupa pendengaran yang lemah dan tinnitus atau hyperacusis (kepekaan berlebihan terhadap bunyi-bunyi tertentu)–menimpa sembilan dari 10 alias 90% dari anak-anak muda yang gemar menghabiskan malam-malam mereka di klab dan bar serta tempat pertunjukan musik yang menyuguhkan musik dengan volume yang berlebihan.

Lembaga tersebut mengakui bahwa selama ini kebanyakan anak muda sana malas memakai alat sumbat telinga, karena alat itu memiliki tampilan seperti alat medis dan mereka berpikir bahwa alat tersebut akan membuat musik sama sekali tak bisa masuk ke telinga mereka. Penyumbat telinga dipakai oleh hanya 3% anak muda ketika mereka sedang berada di klab, bar, dan tempat pementasan musik. Tapi, lembaga itu berharap bisa membantu mengubah citra alat tersebut dengan mengadakan lomba merancang alat sumbat telinga tersebut.

Para mahasiswa dari universitas-universitas Inggris De Montfort, Coventry, dan Sheffield Hallam diundang untuk merancang alat sumbat telinga yang akan menarik bagi anak-anak muda. Para pemenang lomba itu akan diberi penghargaan berupa kesempatan magang di perusahaan-perusahaan konsultan desain terdepan Inggris Ideo, Tangerine, Alloy, dan Pearson Matthews.

Sebuah PodCast (iPodbroadCast) yang dikeluarkan oleh Ministry of Sound Inggris sehubungan dengan RNID menampilkan tiga DJ, Alistair Whitehead, Rob Roar, dan DJ pertama klab tersebut, Jazzy M, berbicara tentang pengalaman mereka memakai alat sumbat telinga. RNID berharap, bersamaan dengan kesadaran yang meningkat dan adanya sebuah desain baru yang mengasyikkan, ini akan mendorong publik untuk memakai alat itu.

Menurut Emma Harrison, dari RNID, salah jika selama ini orang mengira bahwa alat sumbat telinga menahan sama sekali musik masuk ke telinga. Terang Harrison, “Alat itu hanya melemahkan bunyi–berarti, tingkat desibel yang sampai ke telinga anda dikurangi, sehingga anda masih bisa mendengar musik yang sedang anda dengarkan.”

Banyak anak muda menjadi tuli karena telah mengabaikan pemakaian alat sumbat telinga. Padahal, Arlington Laboratories, telah menawarkan sederet desain penyumbat telinga, yang beraneka warna dan bertema kartun. Dreve, pabrik produk medis di Belanda, pun telah menanggapi selera kaum muda dengan membuat penyumbat telinga yang berhias kristal Swarovski. “Jika anda menggunakan kondom, mengoleskan krim tabir surya (ke kulit) atau memakai helm sepeda ketika bersepeda, mengapa tidak anda memakai alat sumbat telinga untuk melindungi telinga anda dari risiko kerusakan permanen?” tekan Harrison.

RNID juga menyarankan cara-cara lain bagi publik untuk melindungi telinga mereka. Selain berdiri jauh dari pengeras bunyi di klab, bar, dan tempat pertunjukan musik, hendaknya mereka mengistirahatkan telinga lima menit setelah sejam mendengarkan musik. Menurut WHO, di seluruh dunia orang-orang tergiring ke penyebab kehilangan pendengaran karena terus-terusan dihadapkan ke bunyi bervolume berlebiha

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu