dalam kategori | Layanan Kesehatan

dr. Jonni, dokter si miskin murah dan ramah

dr. Jonni, dokter si miskin murah dan ramah

Pagi belum beranjak siang, namun belasan pasien telah mengantre di ruang tunggu klinik dr. Jonni di Komplek Ciledug Indah II, Tangerang, Banten.

Meski dengan fasilitas yang cukup sederhana, namun banyak warga mengaku nyaman mendapat pengobatan di klinik ini. Selain murah, keramahan sang dokter menjadi suplemen penyembuh tambahan bagi pasien. Ya, dr. Jonni, 34, memang dikenal dekat dengan warga sekitar. Tidak terkecuali mereka yang tidak mampu. Pelayanan maksimal coba diberikan sekali pun bayaran tidak diterimanya.

Bahkan tidak jarang lelaki asal Pematang Siantar, Sumatera Utara ini, menyambangi rumah warga yang tidak mampu saat pertolongannya dibutuhkan. Meski hari telah tengah malam. Pengalaman tersebut diceritakan Suganda, 49, warga Kp. Poncol, Ciledug saat sang anak, Pantino, 15, terserang panas tinggi.

Lantaran tidak memiliki cukup biaya, Suganda yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan, sang anak dibawanya ke dr. Jonni.

“Pak dokter tidak merujuk untuk rawat inap di rumah sakit, tapi merawat anak saya di rumah layaknya di rumah sakit. Itupun dengan biaya yang sangat jauh dibawah rumah sakit,” ujar Suganda. “Dengan teliti dr. Jonni dalam sehari bisa tiga kali mendatangi rumah saya untuk melihat perkembangan Pantino.”

Kedekatan lain diceritakan Suganda, saat beberapa warga di kampung tersebut terserang penyakit Cikungunya. Di saat Puskesmas setempat belum melakukan penanganan, dengan inisiatifnya sang dokter langsung terjun untuk melakukan pengobatan.

Ditemui Pos Kota di kliniknya, dr. Jonni mengatakan, hal tersebut ia lakukan semata ingin menghapus paradigma masyarakat yang berpikir bahwa berobat ke dokter itu mahal. Menurutnya sebagai dokter yang paling utama adalah pengabdian bukan materi.

“Nyawa manusia adalah segala-galanya. Melihat pasien kita sembuh itu suatu kepuasan yang luar biasa,” tandas dr. Jonni yang mengaku tidak jarang dari pasiennya mengutang lantaran tidak mampu membeli obat.

Selain itu, tidak dipungkiri bahwa apa yang dilakukannya tidak lepas daripada pengalaman keluarganya yang juga bukan dari golongan menengah atas. “Ayah saya hanya penjual sembako yang tidak tentu pendapatannya.”

Suatu ketika saat Jonni masih duduk di bangku SMA, toko milik sang ayah terbakar habis dilalap si jago merah. Tak ayal kondisi ini berdampak pada perekonomian keluarga. Putra dari pasangan Gu Tjin Kiat dan Rommy ini terpaksa harus bekerja sambilan dengan mengajar private untuk memenuhi kebutuhannya sebagai pelajar.

“Ayah hanya bisa membayar iuran sekolah. Selebihnya untuk jajan dan membeli buku harus saya cari sendiri uangnya. Jika kondisinya demikian bagaimana untuk bayar ongkos rumah sakit,” ujar dokter lulusan Universitas Sumatera Utara ini.

Kematian sang kakek juga mengilhami pengabdiannya saat ini. Dokter kala itu masih sangatlah jarang di kampung halamannya. “Saya ingat betul kakek saya wafat pada hari Minggu. Saat kami membawa kakek ke klinik, dokternya tidak ada di tempat. Dan nyawanyapun tidak tertolong. Pengalaman itu membekas dalam hidup saya. Dan sampai sekarang meski hari Minggu saya tetap praktik,” pungkasnya.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu