dalam kategori | Layanan Kesehatan

Dokter Rp. 2000, dr. FX Sudanto

Dokter Rp. 2000, dr. FX Sudanto

Usianya sudah lanjut, yakni 67 tahun. Namun semangatnya untuk mengabdi ke masyarakat tak pernah surut. Dialah Dokter FX Sudanto. Dan bagi warga Abepura, Papua, dia biasa disebut dengan julukan ‘Dokter Rp 2000’.

Lebih dari 30 tahun Sudanto mengabdikan hidupnya sebagai dokter di Abepura. Untuk berobat kepadanya, warga tak perlu mengeluarkan banyak duit. Cukup Rp 2000. Bahkan kalau memang tidak punya uang sama sekali, gratis pun jadi. Karena itulah Sudanto terkenal dengan panggilan ‘Dokter Rp 2000’.

Sudanto memang sudah pensiun sejak tahun 2003. Meski demikian, dia tetap membuka praktek di rumahnya di distrik Abepura. Dia merasa, tenaganya masih dibutuhkan warga.

“Kalau dibilang capek, ya capek. Tapi ini pengabdian dan masyarakat di sana masih membutuhkan,” kata Sudanto usai menerima penghargaan Alumni Award atau penghargaan bagi insan UGM berprestasi di Gedung Graha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur, Yogyakarta.

Menurut Sudanto, setiap harinya warga yang datang berobat sekitar 100. Jumlah itu bisa bertambah menjadi dua kali lipat bila sehabis liburan. “Jam praktek biasanya mulai jam 7 pagi hingga sore. Tapi kalau masih banyak bisa sampai malam,” ujar Sudanto.

Sudanto mengabdikan diri di Papua begitu lulus dari Fakultas Kedokteran Umum (FKU) UGM tahun 1976. Saat itu, FKU UGM masih di kompleks Ngasem, Kraton bukan di Bulaksumur seperti sekarang ini.

Setelah lulus, Sudanto mendaftarkan diri ikut program Dokter Inpres. Dia kemudian ditempatkan di wilayah Asmat Irian Jaya (Papua). Selama 6 tahun hingga 1982 dia bertugas di Asmat dengan melayani 4 kecamatan terpencil.

Entah mengapa seorang Dokter muda saat itu memilih seba gai Dokter Inpres dan mengabdikan dirinya di Provinsi Irian Jaya (Sekarang Papua). Tapi begitu menginjakan kakinya di Asmat ia langsung jatuh cinta dengan keramahan masyarakat setempat.

Wilayah tugasnya benar-benar di pedalaman. Setiap hari Sudanto harus berjalan kaki keluar masuk hutan dan rawa untuk menjangkau satu desa ke desa lainnya. Pasiennya banyak yang tak mampu membayar jasanya dengan uang. Mereka hanya membayar dengan sagu, rempah-rempah atau kayu bakar dari hutan.

“Pasien paling banyak menderita malaria akut, infeksi saluran pernafasan, serta kurang gizi,” kata pria kelahiran Karanganyar, Kebumen, Jawa tengah, 5 Desember 1942 itu.

Selepas masa pengabdiannya sebagai Dokter Inpres di Asmat, dia melanjutkan pengabdiannya di Rumah Sakit Jiwa Abepura sejak tahun 1982 sampai masa purna tugas pada tahun 2003. Namun demikian, ia sampai sekarang masih saja diminta untuk melayani pasien sakit jiwa di rumah sakit tersebut.

Setelah pensiun, ayah lima anak ini membuka praktek pengobatan di rumahnya di Abepura. Dia juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura hingga sekarang. Termasuk juga mengajar di program studi Pendidikan Jasmi dan Kesehatan (Penjaskes) FKIP Uncen serta beberapa perguruan tinggi swasta di Jayapura.

Sudanto praktik mulai pukul 07.00 WIT hingga 12.00 WIT. Pasien hanya membayar biaya periksa. Sedang obat-obatan, alat suntik dibeli pasien di apotek yang terletak didekat tempat prakteknya.

“Hanya memeriksa kondisi pasien saja. Banyak pasien yang merasa sudah sembuh setelah diperiksa. Semua obat yang ada adalah obat generik,” pungkas suami dari Elisabeth S, perempuan keturunan Ambon-Manado.

Karena kegetolan Dokter Sudanto terhadap penggunaan obat generik, maka pemerintah melalui Departemen Kesehatan RI memberikan penghargaan kepada Dokter Sudanto sebagai salah seorang perintis penggunaan obat generik dalam pengobatan.

Selama melayani pasien ia sering menemui pasien yang gawat. Untuk itu penanganan yang diambilnya adalah dirujuk ke rumah sakit, namun jika tak ada harapan hidup bagi pasien tersebut ia tidak segan untuk menyampaikannya. “Dirawat dirumah saja. Tidur di rumah sakit butuh biaya besar. Apalagi  penyakit yang diderita pasiennya sudah akut yang membutuhkan ongkos besar,” jelas dokter yang sehari hari dalam melayani pasien secara  bergantian dibantu oleh seorang perawat dari salah-satu rumah sakit swasta di Waena.

Jadi Caleg
Bukan latah atau bosan melayani pasien sehingga Dokter Tangan Dingin ini juga menekuni dunia politik. Dia menuturkan, dirinya diusung salah satu parpol peserta Pemilu 2009 untuk menjadi Calon Legislatif (Caleg).  “Saya ingin mendorong masyarakat miskin supaya lebih sejahtera, lebih baik dan dihargai,” katanya memberikan alasan.

Dokter Sudanto menegaskan, politik itu jangan dibuat ilmiah, tapi mesti dibuat lebih nyata sehingga masyarakat gampang mengerti.  “Misalnya, lingkungan kotor menimbulkan banyak penyakit ya itu yang harus dibersihkan. Masyarakat kekurangan gizi juga menimbulkan penyakit, maka harus ada perbaikan gizi” papar pria berkaca mata dan berambut putih ini seraya menunjuk sebuah pamlet bergambar dirinya dengan latar belakang sebuah parpol yang terpampang apik di atas meja kerjanya.

Dokter Sudanto menegaskan, saat ini legislatif  terlalu menghamburkan dana untuk membangun mega proyek yang jauh dari kebutuhan masyarakat.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu