dalam kategori | Layanan Kesehatan

Ciri-ciri obat palsu, hindari

Ciri-ciri obat palsu, hindari

Siapa sih yang mau sakit? Niscaya tak seorang pun ingin mengalami hal tersebut. Tapi jika kita sudah kadung mengalaminya mau tak mau kita harus mengeluarkan biaya untuk berobat ke dokter dan menebus resep. Namun tak jak jarang obat-obat yang dijual memiliki harga yang cukup tinggi, sehingga banyak dari kita yang bertindak ‘kreatif’ sendiri, (misal) dengan mencari alternatif obat yang murah dengan membeli di tempat-tempat yang tidak resmi.

Oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab keadaan ini lantas dimanfaatkan sebagai ladang pendulang keuntungan. Seakan sudah tak peduli lagi dengan resiko yang ditanggung oleh konsumen, mereka dengan seenaknya memproduksi obat-obatan palsu atau ilegal yang bisa membahayakan nyawa. Salah satu contoh, suplemen Vitamin C yang sudah kedaluwarsa bisa teroksidasi karena pengaruh lingkungan, kemudian suplemen itu terurai menjadi senyawa lain sehingga dapat memicu terbentuknya batu ginjal. Wah seram kan?! Niat awalnya minum vitamin supaya tubuh lebih fit malah menambah penyakit.

Ciri-ciri obat palsu

Menurut laporan BPOM RI, mereka menemukan bahwa obat yang paling banyak dipalsukan adalah golongan obat pereda sakit seperti asam mafenamat, obat malaria, antihipertensi, diabetes, antibiotik, analgesik dan lifestyle products (contoh: multivitamin, suplemen, obat pelangsing dan obat kuat untuk pria).

Ponstan (asam afenamat) adalah produk yang paling banyak dipalsukan dalam 5-6 tahun terakhir.  Ada juga obat malaria seperti SuperTetra (antibiotik) dan Fansidar. Obat-obat yang dipalsukan ini memiliki berbagai macam ciri, diantaranya:

  1. Bentuk fisik mirip yang asli, tetapi tidak memiliki kandungan apapun, karena (misal) terbuat dari campuran tepung dan gula. Si pasien hanya merasakan placebo effect atau dikenal juga dengan efek sugesti. Tentu saja ini sangat membahayakan konsumen, jika seseorang dalam tahap sangat membutuhkan obat, namun jika yang dikonsumsinya adalah obat palsu, maka nyawanya dapat terancam.
  2. Bentuk fisik mirip yang asli, tetapi mengandung bahan aktif yang berbeda dengan aslinya. Ini jelas berbahaya, misal jika bahan aktif yang tak dikenal itu dikonsumsi berbarengan dengan obat lain.
  3. Bentuk fisik mirip yang asli, mengandung bahan aktif yang sama dengan aslinya, tetapi tidak sesuai standar (bisa karena diturunkan atau malah dinaikkan kadar bahan aktifnya). Hal ini dapat menyebabkan si pasien mengalami overdosis atau justru malah kekurangan dosis sehingga efek penyembuhan menjadi lebih lambat, bahkan memperburuk penyakit.
  4. Mengandung bahan aktif yang sama, tetapi bentuk fisiknya berbeda. Apakah obat tersebut telah memenuhi standar (CPOB) Cara Pembuatan Obat yang Baik menurut BPOM RI? Karena jika tidak, maka keamanan, khasiat dan mutu obat tersebut tidak terjamin.

Menghindari obat palsu

Oleh karena maraknya peredaran obat ilegal di pasaran itulah, kita sebagai konsumen dituntut untuk bertindak lebih pintar, jeli dan teliti lagi dalam memilih obat yang akan dikonsumsi. Jangan sampai karena ingin berhemat, namun tanpa kita sadari justru nyawa kita dan orang-orang yang tersayang malah menjadi taruhannya. Memang secara kasat mata sulit membedakan antara obat dan suplemen palsu dengan yang resmi, namun jika kita mau lebih cermat lagi pasti kita dapat membedakannya sekaligus menghindari terjebak dengan konsumsi obat-obatan palsu.

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Perhatikan Kemasan

Cermati dan pilih obat yang masih disimpan dalam kemasan yang utuh dan baik. Perhatikan nomor izin edar pada kemasannya, nama dan alamat produsennya apakah tercantum dengan jelas, serta baca pula keterangan mengenai obat pada brosur kemasannya. Contoh; Botol tersegel, Boks tidak penyok dan Aluminium dalam keadaan bagus.

Tekan kemasan aluminium. Bila terasa lembek, bisa jadi karena penyimpanan obat yang buruk sehingga kualitasnya menurun atau bahkan obat tersebut sudah kedaluwarsa. Perbedaan sekecil apapun patut kita curigai sebagai ciri-ciri obat palsu. Cek warnanya, apakah terlalu gelap atau terlalu terang dan kadang-kadang bentuk tulisan serta ukurannya berbeda dari yang asli.

2. Cek Nomor Registrasi

Selalu cek nomor registrasi POM, tanggal kedaluwarsa dan nomor batch obat tersebut. Pada kemasan obat asli tintanya tak mudah luntur. Pastikan terbaca dengan jelas dan tak ada kerusakan pada tiga hal tersebut di kemasannya. Terkadang tanggal kedaluarsa pada obat palsu tidak tercetak, melainkan hanya ditempelkan saja.

3. Jangan Tergiur Dengan Harga Miring

Belilah obat hanya di Apotek-apotek yang resmi atau toko obat yang terdaftar. Curigai pula jika apotek yang anda datangi tidak menyediakan apoteker jaga. Ada baiknya anda segera pindah ke apotek lain.

4. Kenali Jenis Obat

Sebelum membeli obat, selalu kenali dulu jenis obat apakah yang anda cari.

  • Lingkaran Hijau: Obat ini adalah Obat Bebas; yang artinya dapat dibeli di toko obat.
  • Lingkaran Biru: Obat ini adalah Obat Bebas Terbatas; yang artinya dapat anda beli di toko obat, namun ada baiknya anda membelinya di apotek karena penggunaannya harus dengan pengawasan apoteker.
  • Lingkaran Merah: Obat ini adalah Obat Keras/Terbatas; yang artinya hanya bisa anda beli di apotek dengan menggunakan resep dokter.
  • Khusus obat golongan G (Gevaarlijk) atau obat keras yang asli harus dan hanya bisa dibeli dengan resep dokter di Apotek, bukan di toko obat.

5. Jangan Tergiur Obat Impor

Jangan mudah tergiur dengan membeli obat impor, sekalipun itu dengan merek dagang dan produsen yang sama, tetapi jika obat itu tidak terdaftar di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) RI, maka bisa dipastikan obat tersebut adalah palsu.

6. Beli Obat Sesuai Resep

Jangan mau dibujuk untuk mengganti dengan obat lain, karena setiap penggantian obat dalam resep anda haruslah atas persetujuan dokter anda. Memangnya siapa yang mau menjamin jika obat lain itu aman atau tidak palsu?! Kan anda sendiri yang akan merasakan akibatnya nanti, bukan orang lain.

7. Hancurkan Sisa Obat

Untuk menghindari pemanfaatan obat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sebaiknya obat dalam bentuk pil, tablet dan kapsul yang sudah tak layak konsumsi dihancurkan dan dibuang ke dalam wastafel. Dan jika obat berupa kemasan ada baiknya anda menggunting-gunting kemasan obat tersebut dan jangan lupa untuk menghancurkan botol obat bekas pakai.

8. Laporkan

Unit Pelayanan Pengaduan Konsumen BPOM RI. Jl. Percetakan Negara No.23, Jakarta Pusat. Telp: (021) 4263333 / 32199000. Email: ulpk@pom.go.id atau dapat menghubungi ke Balai POM di daerah masing-masing. Pengaduan ini juga melayani uji lab terhadap obat. Bawalah obat dalam jumlah yang cukup banyak, karena jumlah dan sumber obat yang diuji harus sesuai dengan standar farmakologi.

 

 

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu