dalam kategori | Asupan Sehat

Kanker usus besar: cegah dengan Pisang

Kanker usus besar: cegah dengan Pisang

Kanker kolorektal (usus besar) berada di peringkat keempat pada kebanyakan kejadian kanker dan menyebabkan kematian akibat kanker di seluruh dunia. Pada tahun 1996 diperikirakan terjadi 875.000 kasus. Angka kematian yang terjadi akibat kanker ini diperkirakan terus meningkat, kebanyakan kasusnya terjadi di Negara maju dan daerah perkotaan Negara berkembang (American Institute for Cancer Research, 1997).

Selama ini kekurangan serat masih disebutkan sebagai satu-satunya kandidat yang diduga kuat sebagai penyebab kanker kolorektal. Kekurangan serat pada makanan yang dikonsumsi akan mempengaruhi kelancaran proses pencernaan. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus akan berbahaya bagi manusia.

Tahapan awal tanda kekurangan serat adalah terjadinya konstipasi yang mengakibatkan buang air besar kurang lancer, tahapan selanjutnya jika terus berlanjut akan mengakibatkan terjadinya divertikulosis dan tahapan yang ekstrim kekurangan serat yang ‘serve’ dapat menyebabkan terjadinya kanker kolorektal (Muchtadi, 2003).

Meskipun serat merupakan penyebab utama kanker kolorektal, saat ini mulai berkembang asumsi baru bahwa kanker kolorektal ini tidak hanya disebabkan oleh kekurangan serat saja. Masih ada penyebab-penyebab lain yang menyertai kekurangan serat sebagai penyebab kanker kolorektal ini, yang terbaru adalah dugaan yang dikembangkan oleh Martinez et al dari Arizona Cancer Center.

Martinez et al (2004) mencurigai bahwa folat, B12, dn B6 memiliki keterkaitan dengna korektal neoplasia pada 1.014 pria dan wanita usia 40-80 tahun yang pernah mengalami pembuangan adenoma polip kolorektal. Hasil penelitian yang telah dimuat di American Journal of Clinical Nutrition tahun 2004 ini menyebutkan bahwa meraka yang mengonsumsi folat, B6, dan B12 yang lebih tinggi memiliki kejadian kembali adenoma kolorektal yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi makanan atau suplemen sumber ketiga vitamin tersebut lebih sedikit.

Pada dekade terakhir ini folat, B6, dan B12 dapat dikatakan menjadi primadona di bidang pangan dan gizi, hal ini lebih kepada peran folat, B6, B12 sebagai koenzim yang memiliki spectrum kerja yang luas. Diketahui bahwa folat dan kofaktor lainnya seperti vitamin B6, B 12, dan metionin, berperan dalam metilasi biologis dan pemeliharaan pool folat intraseluler untuk sintesis DNA; karena defisiensi folat diperkirakan dapat mengarah pada kejadian kanker melalui kerusakan atau terganggunya kejadian ini.

Saat ini cukup banyak bukti epidemiologis yang dikumpulkan dari penelitian secara prospektif dan retrospeksitf yang mendukung adanya peran asam folat dalam penurunan resiko kanker kolorektal. Setidaknya terdapat lebih dari 7 penelitian mengeni hal ini. Dan secara keseluruhannya melaporkan efek posotof folat dalam mencegah kanker kolorektal. Demikian juga dengan vitamin B12, B6 yang fungsinya memaksimalkan kerja folat dalam tubuh.

Konsentrasi folat merupakan determinan penting dari total homosistein. Meningkatnya konsentrasi homosistein diperkirakan berpengaruh secara langsung mempengaruhi karsinogenesis dengan berkurangnya DNA di jaringan yang penting melalui peningkatan secara simultan S Adenosilhomosistein. Penggunaan homosistein sebagai cara untuk menilai folat dalam karsinogenesis ini penting karena hal ini mungkin berkaitan dengan metabolism folat yang merupakan indikasi berkurangnya fungsi-fungsi enzim yang terlibat dalam metabolism.

Homosistein merupakan asam amino yang terbentuk sebagai hasil demetilasi methionin. Homosistein akan terakumulasi dalam darah jika terjadi gangguan dan konsentrasinya tergantung pada status folat, B6, dan B 12. Ketergantungan homosistein pada folat, B6, dan B 12 cukup tinggi, mengingat secara biokimia pemecahan homosistein menjadi sistein membutuhkan vitamin B6 dan remetilasi kembali menjadi metionin membutuhkan B12 dependent enzyme dengan folat sebagai substratnya.

Kebutuhan vitamin B6, B12, dan folat harus tercukupi, baik melalui pangan sumber folat (sayur dan buah) maupun vitamin B12 (daging-dagingan), karena kedua vitamin tersebut penting untuk membantu mengurangi kadar homosistein dalam tubuh kita. Homosistein yang menjadi penyebab segala penyakit degenerative, sebagai akibat dari pola makan dan gaya hidup kita di masa lalu yang kurang sehat.

Meskipun mekanisme secara jelas belum dapat dipastikan tetapi mekanisme plausible yang digambarkan dalam literature termasuk peran folat dalam metabolism karbon tunggal, metilasi DNA, sistesis DNA, dan proliferasi sel. Sehingga diduga ketidakseimbangan antara metilasi biologis dan sitesis nukleotida adalah kunci yang menjelaskan tentang mekanisme yang bertanggung jawab untuk peran folat dan B6 dalam karsinogenesis.

Potensi Pisang Untuk Mencegah Kanker Kolorektal

Hasil penelitian dari Martinez et al (2004) menunjukkan bahwa vitamin B6 dan folat memiliki keterkaitan tertinggi dengan metabolism folat dalam memiliki efek protektif dalam mencegah timbulnya kembali adenoma (neoplasia) di daerah kolorektal pada lansia.

Pisang merupakan sumber vitamin B6 dan folat yang sangat baik, ditambah dengan kandungan serat yang cukup baik pula, dan pisang mengandung vitamin ini lebih banyak dibandingkan dengan buah-buahan lain yang biasa dikonsumsi, selain itu pisang juga dikenal sebagai salah satu buah yang dapat melancarkan buang air besar.

Sebuah penelitian yang diterbitkan ditahun 1990-an, menunjukkan bahwa pisang dapat memenuhi 2/3 kebutuhan vitamin B6 pada lansia dengan status ekonomi rendah yang tinggal di daerah metropolitan. Dan ada juga yang memenuhi kebutuhan vitamin B6-nya hanya dari sayur dan buah saja. Dan fakta penting dari penelitian ini dalah bahwa pisang mengandung vitamin B6 yang dapat memenuhi sebanyak 30% dari total kebutuhan vitamin B6. Keuntungan lain dari pisang adalah sifatnya yang padat gizi, ekonomis, dan mampu memenuhi kebutuhan vitamin B6 dan folat dalam jumlah yang cukup signifikan dan siap santap serta sangat cocok untuk mencegah kanker kolorektal pada siapa saja.

Kebutuhan B12 tidak dapat dipenuhi dari sumber pangan nabati, untuk memperolehnya harus mengkonsumsi sumber pangan hewani, seperti susu, kerang-kerangan, dan daging. Untuk yang terakhir yakni daging sebaiknya yang tanpa lemak dan tidak terlalu banyak.

Semoga bermanfaat sebagai ikhtiar/ usaha menjaga kesehatan dari kanker kolorektal.

(2009. Nurchasanah. Rahasia Sehat dengan Makanan Berkhasiat. Jakarta: Kompas, dengan sedikit perubahan)

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu