dalam kategori | Layanan Kesehatan

Bukan Karena Obat Kaki Gajah

Bukan Karena Obat Kaki Gajah

Hasil analisis tim investigasi Komite Ahli Pengobatan Filariasis (KAPFI) yang menyelidiki kasus efek samping pascapengobatan massal penyakit kaki gajah di Kab. Bandung, menyebutkan, dari delapan warga yang dilaporkan meninggal seusai mengonsumsi obat antipenyakit kaki gajah, lima di antaranya meninggal secara kebetulan (koinsiden).

Sementara itu, tiga warga lainnya, didapati belum meminum obat antipenyakit kaki gajah yang dibagikan pada pencanangan eliminasi penyakit kaki gajah, Selasa (10/11).

“Kasus kematian itu terjadi karena penyakit lain yang telah diderita sebelumnya, bukan karena pengobatan massal,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dr. Alma Lucyati, M.H.Kes., saat ditemui seusai menerima rombongan 25 anggota Komisi IX DPR RI di aula Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majalaya, Rabu (18/11).

Hasil tersebut dibuat setelah pada Senin (16/11) dilaksanakan pertemuan untuk membuat kajian hasil investigasi yang dihadiri oleh KAPFI, Badan POM, WHO, RS Hasan Sadikin, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kesehatan Kab. Bandung, dan RSUD Majalaya Kab. Bandung. Sementara itu, investigasi dilakukan di Kab. Bandung sejak Rabu (11/11) hingga Sabtu (14/11).

Dalam hasil investigasi tersebut, juga disimpulkan bahwa banyaknya warga yang mengeluh seusai mengonsumsi obat antipenyakit kaki gajah disebabkan oleh rasa ketakutan masyarakat terhadap efek samping ringan yang timbul. Efek samping seperti mual, muntah, pusing, dan sesak disebabkan karena matinya mikrofilaria yang ada di dalam tubuh.

Seusai melaksanakan gerakan meminum obat antipenyakit kaki gajah secara massal di Kab. Bandung, sebanyak 1.145 warga mengalami keluhan seperti mual, pusing, dan muntah, serta dirujuk ke sebelas unit pelayanan kesehatan di Kab. Bandung. Mayoritas warga yang mengeluh, berasal dari Kec. Majalaya sehingga dirujuk ke RSUD Majalaya.

Jumlah pasien yang mengalami efek samping setelah mengonsumsi obat antipenyakit kaki gajah yang datang ke RSUD Majalaya hingga Sabtu (14/11) sebanyak 691 orang, atau 60,35 persen dari total warga yang mengalami keluhan. Sementara itu, dilaporkan delapan orang yang meninggal dunia dengan dugaan akibat efek samping obat antipenyakit kaki gajah.

Analisis

Menurut Ketua KAPFI Purwantyastuti, dari hasil analisis, seluruh kejadian memang berdekatan dengan pengobatan massal kaki gajah pada 10 sampai 16 November 2009.

“Dari delapan kematian, yang tiga orang tidak minum obat yang dibagikan. Artinya tidak ada kaitannya dengan obat yang diberikan. Secara kebetulan meninggal setelah pengobatan masal,” ujarnya menambahkan.

Saat ditanya bagaimana Depkes yakin kematian tersebut bukan karena obat, Purwantyastuti mengatakan, “Ada informasi-informasi (kesehatan) yang diberikan sebelum pengobatan. Jadi kita tahu sakit-sakit apa saja yang diderita.”

Selain itu, menurut dia, hal itu harus dilihat juga waktu kejadiannya. Menurut dia, obat pencegah penyakit kaki gajah membutuhkan waktu 1 sampai 4 jam agar tersebar dalam darah.

“Kalau orang baru menelan obat satu jam, terus dia sakit akhirnya ada kejadian seperti itu (kematian), artinya tidak ada hubungannya dengan obat ini,” ucapnya.

Selain itu juga, menurut dia, harus dilihat apa dampak obat terhadap penyakit yang diderita korban. “Kalau sakit jantung, obat penyakit ini tidak ada kaitannya,” ujarnya.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu