dalam kategori | Layanan Kesehatan

Bukan gila tapi sakit jiwa

Bukan gila tapi sakit jiwa

Riset dasar kesehatan nasional tahun 2007 menyebutkan sekitar satu juta orang di Indonesia mengalami gangguan jiwa berat, sedang 19 juta orang lainnya menderita gangguan jiwa ringan hingga sedang.

Belum ada angka yang lebih mutakhir dari riset ini, namun menurut tren global seperti ramalan WHO, jumlah penderita sakit mental akan terus meningkat hingga mencapai 450 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2013.

Di Indonesia, peningkatan jumlah penderita tidak terasa mengalami lonjakan drastis karena hingga kini masih lebih banyak orang yang buta tentang penyakit ini ketimbang mereka yang paham.

“Gangguan jiwa berat artinya penderita mengalami gangguan dalam fungsi sosial dengan orang lain, serta dalam hal fungsi kerja sehingga tidak produktif,” kata Dr Tun Kurniasih Bastaman, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia.

Gangguan jiwa berat, menurut Dr Tun, biasanya juga diikuti gejala dengan efek kuat misalnya delusi, halusinasi, paranoid, ketakutan berat, yang biasanya disebut gejala psikosis.

Kebanyakan orang Indonesia cenderung menyederhanakan pengertian tersebut dengan menyebut penderitanya sebagai ‘gila’, karena adanya dampak penderita yang kerap berubah temperamen dalam waktu singkat.

“Karena saat mengalami delusi, halusinasi atau paranoid penderita merasa ada pihak lain dihadapannya atau pihak yang mengancamnya, meski pada kenyataannya itu tidak benar, maka dia bisa bicara sendiri, teriak, menangis atau bahkan mengamuk.”

Itu yang dialami Eriva sejak sekolah dasar.

Besar dari keluarga pas-pasan di Jakarta, orangtuanya berkali-kali membawanya pergi berobat ke berbagai tempat, terutama sumber nonmedis.

“Karena saya suka teriak, ngamuk, marah-marah sendiri, waktu itu satu-satunya penjelasan ya saya dianggap kesurupan,” kata ibu empat anak ini.

Orang pintar dan tabib di segala penjuru dikunjungi demi kesembuhan Eriva, begitu pula segala macam jamu dan jampi dicoba.

“Tiap kumat saya dilumuri ramuan bawang putih seluruh badan, sampai sekarang saya masih bisa merasakan pahit dan panasnya,” tambahnya pelan.

Baru 30 tahun kemudian, bahkan tanpa orangtuanya tahu, Eriva menemukan biang keladi penderitaannya. Seorang psikiater di sebuah RSUD di Jakarta mengatakan dirinya menderita skizofrenia.

“Saya baru tahu penyakit ini. Saya baru tahu ada obatnya.”.

Keajaiban internet

Informasi tentang kesehatan jiwa lambat berkembang karena kentalnya stigma di tengah masyarakat tentang anggapan gila, kata Dr Tun Kurniasih.

“Orang malas cari informasi yang benar tentang penyakit ini, karena belum-belum sudah ada cap oh.. itu orang gila,” tukasnya.

Informasi baru sampai biasanya setelah penderita atau orang terdekatnya mencari-cari jawaban kesana-kemari, dan ini bisa berlangsung bertahun-tahun setelah menguras kesehatan, waktu dan biaya.

Masyarakat lebih suka menyederhanakan gejala sakit jiwa dengan menyebut penderita ‘gila’

“Empat tahun saya penasaran sebenarnya saya ini sakit apa. Ke Bali, ke Kendari, Makassar, Jakarta, biaya banyak (keluar) tapi tidak jelas juga,” keluh Ahmad Amir, seorang penderita kelainan jiwa yang kini menetap di Gorontalo.

“Baru dari internet saya paham, saya punya gejala-gejala yang mirip dengan skizofrenia,” tambahnya gemas.

Meski sudah berhubungan dengan sejumlah psikiater di beberapa kota, Amir mengaku tak ada dokter yang secara lugas memberitahunya apa jenis kelainan mentalnya dan ini dirasa justru membuatnya sulit mencari informasi lebih lanjut.

“Saya cek obat yang diresepkan saya apa, apa gunanya, ternyata memang obat jenis antipsikotis. Tapi saya tanya dokter apa saya (kena) skizofrenia, dia tak jawab”.

Seorang psikiater di Jakarta justru marah saat Heri Purwanto menanyakan, apakah adiknya menderita skizofrenia, salah satu bentuk penyakit jiwa paling parah.

Si adik, sudah sejak 2009 menunjukkan gejala delusional, suka marah, keluar rumah telanjang dan bahkan dua kali mencoba bunuh diri. Seperti juga pengalaman penderita lain, Heri mengaku mencoba berbagai cara mencari penjelasan demi kesembuhan adiknya.

“Ternyata indikasi kelainan cocok, obatnya juga cocok, jadi kesimpulan saya memang adik saya begitu,” jelasnya.

Heri juga menimba ilmu dan pemahaman dari internet dengan banyak membaca publikasi asing serta pengalaman sesama penderita.

Baik Amir maupun adik Heri, kini menemukan obat yang dianggap relatif cocok, setiap hari diminum untuk mengendalikan kekambuhan dan melawan gejala halusinasi.

Setelah berganti-ganti pekerjaan akibat ketidakmampuan mengontrol perilaku dan emosi sebelumnya, kini Amir adalah pengajar di sebuah universitas swasta di Gorontalo dan siap untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan S2 sementara adik Heri, kini bekerja sebagai fotografer profesional di sebuah koran nasional.

Hambatan sejawat

Buruknya stigma terhadap penderita penyakit mental, bukan cuma datang dari publik awam.

“Yang lebih berat justru biasanya dari kalangan terpelajar, bahkan sejawat medis sendiri,” kata Dr Tun Kurniasih.

Mantan Kepala Bagian Psikiatri pada Fakultas Kedokteran UI ini mencontohkan kerap kali muncul keengganan sesama dokter untuk merujuk pasien ke bagian psikiatri.

“Coba bayangkan pernah ada rekan dokter mengatakan pada pasiennya, ‘ Bu maaf ya saya rujuk ke psikiatri.’ Lha disangkanya psikiatri itu tempat apa?” tukas Tun jengkel.

Rekannya sesama psikiater, Dr JJ Thomarius juga berpendapat lambatnya pemahaman tentang kesehatan jiwa justru dihambat oleh pandangan sempit sesama dokter yang tidak menganggap layanan psikiatri memiliki sumbangan penting untuk kesembuhan holistik pasien.

“Jadi pandangan sejawat itu sering sempit, psikiatri cuma untuk penderita psikosis, skizofrenia, orang gila saja,” kritik Thomarius, mantan kepada RSJ Manado.

Thomarius yang tiap bulan berpraktek di Gorontalo juga menganggap banyak pekerja medis memandang penyembuhan penyakit fisik sebagai persoalan utama kesehatan pasien sehingga gangguan kejiwaannya diabaikan.

Buruknya pemahaman tentang pentingnya kesehatan jiwa, tampaknya juga didukung oleh sangat kurangnya sumber daya manusia dalam layanan ini.

Dengan 237 juta penduduk, Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar 616 psikiater, atau seorang ahli jiwa untuk tiap 400.000 penduduk. Ini sangat jauh dari perbandingan ideal layanan kesehatan mental yakni 1 psikiater untuk 30.000 penduduk.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu