dalam kategori | Layanan Kesehatan

Biarawati Keluar Masuk Kampung Selamatkan Anak-anak Cacat

Biarawati Keluar Masuk Kampung Selamatkan Anak-anak Cacat

“Banyak orang berpendapat, anak cacat tidak bisa apa-apa. Hanya dikasih makan, tidak punya kemampuan apa-apa dan tidak bisa disuruh apa-apa….”

Sambil memegang sebungkus biskuit, Kornelis Tamo Ama (5th) mendekati Suster Vero, ALMA (40th) yang sedang menggendong Kasih, bocah berumur 1,5 tahun yang menangis karena terjatuh saat berlari kecil. Sementara itu Ferdy (9th) dengan balutan baju dan celana warna orange duduk di lantai. Sesekali dia tiduran lalu merangkak seperti anak bayi memungut remah biskuit yang jatuh dari tangan Kornelis. Suster Vero lalu menegurnya, “Jangan Ferdy. Itu kan kotor.” Namun Ferdy tetap saja memungut remah itu lalu memakannya. Sejurus kemudian Kornelis mendekati Ferdy lalu membagi lagi biskuit yang sedang ia pegang itu. “Dia memang tidak pernah pelit. Kadang-kadang dia beri saja yang ia punya meski yang lain sudah dapat bagian. Dia tidak pelit,” ujar Suster Vero mengomentari Kornelis.

Beberapa anak panti berfoto biarawati pengasuh mereka….(EDL)

Begitulah sepenggal suasana di Panti Asuhan Bakti Luhur, Waingapu, NTT pada suatu siang yang panasnya tak alang kepalang itu. Sekilas tidak ada yang “istimewa” dengan Panti Asuhan yang dihuni oleh 13 anak, 3 suster dan 3 pendamping anak ini. Model bangunan rumahnya pun tak ubahnya bangunan rumah-rumah lain di sekitarnya. Tidak mengherankan! Sebab awalnya rumah tersebut adalah rumah sebuah keluarga yang kemudian dibeli para suster ALMA berkat bantuan seorang donator bernama Pak Chandra dari Jakarta. “Keistimewaan” baru mulai terasa setelah pengunjung masuk ke dalam rumah dan mencoba mengamati penghuninya. Ya, para penghuninya merupakan anak-anak cacat tunarungu, tunanetra, tunadaksa, down syndrome. Mereka berasal dari kampung-kampung di seluruh penjuru Pulau Sumba.

Seperti dijelaskan oleh Suster Vero, anak-anaknya tersebut berasal dari keluarga-keluarga miskin. Orangtua mereka adalah petani miskin dan buta huruf. Untuk mendapatkan anak-anak ini, para suster harus “bergerilya” keluar masuk kampung, melintasi perbukitan sambil menembus panas. Sesekali mereka harus menginap di rumah masyarakat atau umat karena kemalaman atau keletihan berjalan kaki. Berkat dukungan data dari RT, RW, Kades atau Lurah, para suster ini bisa berjumpa dengan anak-anak yang cacat.

Jarak tempuh mereka sangat bervariasi. Mulai dari hanya beberapa kilo meter sampai jarak 90 km. Saat mereka pergi mencari anak cacat di Nggongi yang jaraknya 70 km ke arah timur Kota Waingapu misalnya, para suster menumpang bus menempuh jarak 70 km menuju Pastoran Nggongi. Lalu dari pastoran mereka menempuh jarak 20 km lagi dengan berjalan kaki melintasi tofografi berbukit-bukit. Acapkali mereka kemalaman di perjalanan sehingga harus menginap di rumah masyarakat. “Kami didampingi pembina umat atau guru agama. Mereka yang tahu betul keadaan sehingga kami bisa dengan mudah masuk ke kampung-kampung,” jelas Suster Vero didampingi Sr. Petronela Ndua Ate, ALMA.

Agar tidak tampak menjadi “mahkluk” asing di tengah masyarakat yang belum terbiasa melihat sosok berpakaian biarawati, para suster ini mengenakan “seragam miskin”. “Hal ini penting sebab masyarakat tidak terbiasa dengan pakaian suster,” jelas Vero lagi.

Meski niat para suster ini sangat mulia, niat itu tidak dengan mudah bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat. Sebagian orangtua anak cacat menaruh curiga dan khawatir anak-anak mereka akan diambil selamanya dan menjadi milik para suster itu. Selain itu, para orangtua yang kebanyakan beragama asli Marapu dan agama lain ini khawatir anak-anak mereka akan dibawa ke gereja dan dikatolikkan.

Berhadapan dengan dugaan semacam ini para suster menjelaskan bahwa karya mereka khusus untuk anak-anak cacat karena itu mereka sama sekali tidak akan mengambil untung secara materil. “Kami hanya ingin mengasuh dan merawat. Tujuan kami bukan untuk memiliki anak-anak Umbu dan Rambu. Nanti kalau sudah besar dan mandiri, Umbu dan Rambu boleh ambil kembali. Kami tidak akan tahan. Anak Umbu dan Rambu akan kami pelihara dengan baik, kami didik dan kami sekolahkan. Anak Umbu dan Rambu pasti akan jadi pintar dan sehat karena kami memang belajar khusus untuk mengurus anak-anak cacat,” ungkap Vero mengulangi kata-katanya ketika memberi penjelasan kepada orangtua. Sekadar informasi, Umbu adalah sebutan terhormat untuk seorang pria Sumba Timur, sedangkan Rambu sebutan untuk perempuan. Kalau di Sumba Barat, lebih lazim dipanggil Ina dan Ama (Ibu dan Bapak).

Walau tidak mudah, dengan penjelasan semacam ini para orangtua mengerti dan mempercayakan anak mereka kepada para suster. Meski begitu, para suster tidak langsung bisa membawa sang anak cacat. Khusus yang Marapu, mereka harus mengadakan upacara tersendiri untuk meminta izin kepada Marapu atau roh nenek moyang. Kalau ternyata Marapu tidak mengizinkan, maka anak tidak bisa diberikan. Upacara ini biasanya dilakukan pada hari yang lain sehingga konfirmasi itu tidak langsung bisa diketahui para suster itu. Dengan demikian mereka harus datang lagi pada kesempatan lain. Di Nggongi misalnya, mereka berjumpa dengan sebuah keluarga yang empat orang anaknya cacat. Setelah melalui upacara tersebut, mereka hanya merelakan dua anak kepada para suster.

Sisa-sisa Kemampuan

sentuhan cinta nan tulus bagi mereka yang membutuhkan…..(EDL)

Dalam pengamatan Sr. Vero, di kampung-kampung anak-anak cacat tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak-anak lainnya. Bahkan ada orangtua yang memandang mereka sebagai beban hidup. “Banyak orang berpendapat, anak cacat tidak bisa apa-apa. Hanya dikasih makan, tidak punya kemampuan apa-apa dan tidak bisa disuruh apa-apa,”jelas Vero. Tapi dari pengalaman Sr. Vero dan kawan-kawan, anak-anak cacat masih memiliki sisa-sisa kemampuan yang masih bisa dikembangkan.

Para suster ini menunjukkan bahwa jika sisa kemampuan yang ada dipelihara dan dikembangkan, sang anak akan bisa mandiri. Seorang anak tuna daksa yang sudah berumur tujuh tahun misalnya. Di kampungnya ia tidak sekolah. Setelah berada di panti dan mendapat perawatan yang baik, dimasukkan ke TK dan akhirnya bisa masuk SD. Ternyata ketika ujian kenaikan kelas 2, dia mendapat peringkat 2. “Bagi kami, anak-anak yang cacat pun mempunyai hak yang sama. Mereka bisa berprestasi. Jangan sembunyikan mereka,” demikian Vero. Dalam berkarya, para suster ini merasa mendapat spirit dari kata-kata pendiri ALMA, yakni Romo Yansen. Sang Romo mengatakan, “Anak-anak cacat, orang-orang miskin dan terlantar adalah majikan, kita adalah pelayan mereka. Jadi kita harus melayani mereka sampai batas kemampuan kita”.

Sepeda dan Kamar Baru

Di tengah niat mulia untuk melayani anak-anak cacat, para suster di panti ini dihadapkan pada beberapa kesulitan. Yang pasti, para suster ini tidak bisa mengharapkan dukungan biaya dari keluarga anak-anak cacat. Seluruh biaya perawatan, makan minum dan biaya sekolah serta uang rumah sakit jika ada yang sakit ditanggung oleh para suster. “Biaya yang ada sangat minim sehingga kami harus benar-benar irit. Yang kami dapat hanya uang makan. Kami harus pandai mengolah uang yang sedikit agar anak-anak bisa makan,” ungkap Vero lagi sambil menjelaskan bahwa pantinya pernah dua kali mendapat bantuan beras dari Pemda dan PLN saat Natal.

Para suster ini akan sangat kebingungan jika sewaktu-waktu ada anak yang sakit, apalagi kalau harus mondok atau opname. Pernah pada tahun 2007 seorang anak sakit epilepsi sehingga harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Biaya pengobatannya Rp700.000,- Sementara itu Sr. Vero tidak memiliki biaya sebesar itu sehingga dia meminta pengertian pihak rumah sakit agar diperkenankan membayar secara berangsur. Setelah itu Vero memutar otak lalu datang ke RT/RW dan kelurahan untuk meminta surat keterangan miskin sehingga mendapat potongan setengah harga.

Kini, kebutuhan paling mendesak untuk mereka miliki adalah dua buah lemari pakaian anak-anak. Selain itu Vero ingin menambah satu kamar tidur lagi. “Kami berharap bisa menambah satu kamar, sebab kamar yang kecil ini ditempati 6 anak dan 2 ibu pendamping,” jelas Vero. Dengan luas kamar yang hanya sekitar 3×4 M, hawa terasa sangat panas. Apalagi cuaca Waingapu terkenal sangat panas. “Kami rindu sekali menambah satu kamar di belakang sehingga bisa tampung empat anak dan dua pengasuh,” ujar Vero.

Hal lain yang membuat Vero urut dada adalah tatkala anak-anaknya meminta dia untuk membelikan sepeda. Berhadapan dengan permintaan semacam ini, suster yang berasal dari Jawa namun sudah sangat berlogat Sumba ini hanya katakan, “Mama belum dapat rezeki. Nanti kalau sudah dapat kita beli. Sekarang ini yang penting kita bisa makan dulu.”

Memang sangat tampak di panti ini anak-anak tidak memiliki fasilitas bermain. Boneka Barbie atau mobil-mobilan tergolong barang mewah bagi mereka. “Paling-paling kami hanya ajak mereka bermain sambil menggambar atau mewarnai,” ujar Sr. Nela.

Selain anak-anak yang ditampung di panti, para suster juga memiliki 29 anak binaan yang tetap tinggal di keluarga masing-masing. Secara berkala para suster mengunjungi anak-anak binaan tersebut. Ada anak yang dekat, namun ada juga yang jauh. Tidak capai? “Kami juga capai. Tapi karena kami sadar bahwa kami ada untuk mereka, kami jalani dengan senang hati,” ujar Nela yang pernah terjatuh dari motor dan mengalami luka cukup parah saat menjemput anak-anak panti dari SLB di Londa Lima, 7 KM dari kota Waingapu.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu