dalam kategori | Layanan Kesehatan

Berjuang untuk mendapatkan buah hati.

Berjuang untuk mendapatkan buah hati.

Sudah 3 tahun belakangan ini saya mengikuti cerita dan perjuangan teman-teman di website ini dan senang sekali selalu mendapatkan pelajaran dan pencerahan baru setiap ada artikel baru yang masuk. Alhamdulillah akhirnya saya berhasil hamil setelah melalui perjuangan yang tidak mudah bersama dengan suami. Jadi saya ingin membagi pengalaman, semoga bisa membantu dan memberikan masukan untuk teman-teman yang juga sedang melalui proses mendapatkan buah hati.

Saya dan suami sudah menikah selama 4 tahun. Karena usia yang tidak muda saat menikah, maka setalah 6 bulan tidak hamil, kami langsung konsultasi ke dokter kandungan. Ternyata setelah “shopping around” ke beberapa dokter, masing-masing dokter memiliki pandangan, teori dan pendekatan yang berbeda. Jadi di awal agak bingung juga mau mengikuti yang mana. Akhirnya kami putuskan untuk memilih sesuai dengan “chemistry” saya dengan dokter yang paling dirasa nyaman, yaitu dr. Yuslam di Rs Pondok Indah.

Mulailah perjalanan awal dengan berbagai tes darah, HSG, tes sperma dan lain-lain. Alhamdulillah ternyata hasilnya bagus dan tidak ada masalah di diri saya, hanya saja kualitas sperma suami memang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu bagus. Jadi kami diberikan vitamin untuk meningkatkan stamina. Awalnya memang disarankan untuk mencoba secara alami dulu.

Setelah hampir setahun tidak hamil juga, kamipun kembali lagi dan ternyata kualitas sperma suami justru menurun. Sehingga dr. Yuslam menyarankan untuk program bayi tabung. Krn di RSPI tidak ada program bayi tabung, maka kami di-refer ke Rs. Family Pluit. Mulailah kami program di sana tahun 2010. Karena telur saya cukup banyak, maka program adalah short-protocol dengan dosis suntikan gonal-F dosis rendah dan frekuensi juga hanya 5 kali. Dari 23 telur, didapatkan 3 embryo dengan kualitas Good.

Sayangnya mungkin memang belum waktunya kami dikaruniai buah hati. Pas di hari waktunya test hamil, saya mens dan rasanya sedih sekali. Apalagi ditambah rasa sakit dan perut kembung yang berkepanjangan. Saya sempat down selama 2 minggu dan akhirnya cuti kantor. Saya sampai bilang kepada suami, sudah cukup, tidak mau coba program apa apa lagi. Coba secara alami saja.

Setelah tidak ingat-ingat lagi soal program untuk memiliki anak, di awal tahun 2011, saya mulai baca-baca artikel di internet tentang bayi tabung di Singapore. Pelan-pelan tergrak lagi hati saya untuk kembali mencoba program IVF. Kebetulan karena ada rencana liburan ke sana, saya sekalian buat appointment dengan Prof. Wong di National University Hospital. Saya personally suka dengan beliau. Penjelasannya gamblang dan detailed. Proses assessment dan test darah juga lengkap. Kami disarankan untuk mencoba dengan short-protocol IVF dan karena usia yang sudah tidak muda, maka beliau menyarankan jangan ditunda lagi karena dikhawatirkan kualitas sel telur akan menurun. Kami memutuskan untuk pikir2 dulu dan mencari second opinion di Jakarta. Karena kalau dihitung-hitung, program IVF di Singapore menjadi sangat mahal karena kami tidak punya keluarga di sana dan harus menyewa hotel/appt selama sekitar 2-3 minggu belum ditambah biaya transportasi, makan, etc.

Karena Rs. Family sangat jauh dari tempat tinggal, maka kami coba untuk mencari yang lebih dekat ke rumah. Jadilah kami mencoba ke dr. Indra Anwar di Klinik Morula Bunda Jakarta. Program yang dijalankan short-protocol. Saya suntik gonal-F dengan dosis 225 selama 8 hari, kemudian suntik ovudrel dan suprefact. Saat OPU, alhamdulillah sel telur berjumlah 15. Tiga hari kemudian kami melakukan Embryo Transfer. Dari 15 sel telur, yang matang 9, semua-nya di-ICSI dengan sperma suami, yang terbuahi sebanyak 6 dan yang berkualitas good sebanyak 3. Jadi disarankan untuk 3 embryos ini yang di-transfer ke rahim. Saat tiba di RS Bunda untuk Embryo Transfer, kami sempat deg-degan karena ternyata dr. Indra sakit pada hari itu dan akan digantikan oleh dr. Taufik Jamaan. Ternyata pada saat ketemu, beliau sangat ramah dan komunikatif. Selama proses pun, beliau dengan sabar menjelaskan step-by-step apa yang akan dilakukan, jadi saya menjadi relax. Apalagi karena juga boleh ditemani oleh suami pada saat ET. Tidak sampai 10 menit, ET selesai dan saya diminta tiduran selama satu jam. Karena sudah tidak bisa menahan buang air kecil (sebelumnya minum aqua sampai 2 botol karena kandung kemih harus penuh), akhirnya dibantu suster untuk buang air kecil di pispot. Saya senang sekali dengan keramahan para suster di RS. Bunda. Semuanya baik baik. Saya juga diberi tips untuk makan putih telur ayam kampung (direbus) minimal 4 butir sehari dan minum air kacang hijau setelah OPU sampai tes kehamilan. Karena makanan ini sumber protein yang baik untuk membantu terjadinya kehamilan juga untuk mencegah terjadinya over stimulasi hormon.

Sejak OPU, saya dan suami pindah kamar ke lantai bawah jadi total stop naik turun tangga. Saya juga betul-betul istirahat di rumah dan bed-rest. Hanya sekali-kali saja jalan-jalan ke mall, bertemu teman-teman untuk makan siang lalu pulang, tidur siang dan istirahat lagi. Saya memang sengaja cuti bekerja selama 2.5 minggu dan menghindarkan pikiran stress atau negatif. Pada hari-hari dimana harusnya terjadi penempelan embryo ke rahim dan biasanya terjadi spotting, saya bolak balik cek celana dalam tapi bersih-bersih saja. Perut pun tidak ada rasa sakit sama sekali. Sekitar 2 hari sebelum tes hamil, saya mulai pasrah. Saya bilang ke suami, kalau memang tidak berhasil, mungkin ini tanda dari Tuhan untuk mencoba memiliki anak melalui proses adopsi. Karena anak itu rejeki dan bisa datang dari mana saja. Jadi daripada stress menunggu hari tes kehamilan, saya coba browsing untuk informasi panti asuhan dan proses adopsi. Lumayan membantu jadi pikiran tidak berfokus pada apakah saya hamil atau tidak.

Pada hari tes hamil, pagi-pagi kami berangkat ke Klinik Morula untuk test darah dan urine. Setelah itu keliling cari makan, jalan-jalan dan akhirnya pulang ke rumah, tetap belum ada kabar hasil test-nya. Karena sudah jam 3, saya mengantuk dan akhirnya tidur siang. Begitu terbangun, suami saya sudah ada di samping dengan mata berkaca-kaca, aduh saya langsung panik. Lalu suami saya bilang, ini sudah ada sms dari Bunda, positif hamil. Subhanallah .. saya langsung sujud syukur dan menangis. Rasanya bercampur aduk. Tidak terlukiskan rasa bersyukur kepada Allah SWT. Semua perjuangan saya dan suami baik secara fisik, psikologis dan finansial serta doa kami ternyata dikabulkan.

Saat ini saya sudah hamil 7 bulan dengan seorang bayi perempuan. Alhamdulillah hasil USG regular dan 4 dimensi semuanya baik dan sehat.

Dulu saya selalu capek setiap kali teman atau keluarga bilang ke saya, harus sabar dan pasrah. Kok rasanya gampang sekali ngomong begitu sementara saya yang menjalani, gimana juga mau pasrah. Apalagi saya termasuk orang yang berorientasi pada hasil, tetap harus usaha sampai titik terakhir. Tapi saya mengalaminya sendiri. Di saat beberapa hari sebelum tes hamil, saya betul-betul menyerahkan kepada Allah sampai saya sempat ngomong sendiri, kalau memang saya dan suami jalannya adalah mengadopsi, saya akan terima. Kalau memang tidak ditakdirkan untuk hamil, saya juga akan menerima dan tidak apa apa. Saya sudah bersyukur diberikan suami yang sabar, baik, supportif dan sayang sama saya. Masalah anak kami datangnya dari mana, insya Allah kami berdua bisa menjalaninya dengan baik secara bersama.

Semoga cerita saya bisa dijadikan referensi untuk teman-teman yang juga sedang berjuang untuk mendapatkan buah hati.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu