dalam kategori | Layanan Kesehatan

Belajar tentang HIV di lapangan bola

Belajar tentang HIV di lapangan bola

MANOKWARI, 16 Nopember, 2011 – Beberapa bulan belakangan ini Yohanna Waisimon, 13, memiliki rutinitas baru seusai sekolah: bermain bola voli dengan Tim Yunior Cendrawasih yang baru dibentuk.

Bersama 12 anggota tim lain yang seumurnya, dia berlatih tiga kali seminggu, dan bahkan telah mulai ikut berkompetisi dalam pertandingan-pertandingan lokal.

Ibunya, Frederika Nerotow, sangat mendukung aktivis barunya ini. “Saya senang kalau dia sibuk, karena remaja seumur dia sedang rentan-rentannya,” akunya.

Sejak bergabung dengan Tim Cendrawasih, Yohana tidak saja belajar teknik servis, passing, atau smash, tapi juga telah menambah pengetahuannya tentang HIV dan AIDS. Pelatihnya, Bernard Wassangai selalu meluangkan waktu sebelum berlatih untuk membahas tentang penyakit menular ini.

“Pelatih selalu bilang ke kami, jangan melakukan hubungan seks, dan tidur pada jam 9 malam,” kata Yohanna.

“Saya merasa bertanggung jawab terhadap mereka, karena tanpa pengaruh yang baik, anak-anak muda di sini cenderung beralih ke alkohol, narkoba dan seks,” kata pelatih Bernard.

Bernard, seorang pegawai negeri yang juga melatih tim bola voli dewasa, baru-baru ini telah menerima pelatihan untuk mengajar HIV dan AIDS yang didukung oleh UNICEF dengan bekerjasama dengan Dinas Provinsi Pemuda dan Olahraga.

“Program ini dijalankan karena melihat animo remaja dan orang muda di Papua yang sangat besar terhadap olahraga,” kata Yance Tamaela, petugas HIV dan AIDS untuk UNICEF di Papua Barat.

“Ini merupakan peluang yang sangat baik untuk mengintegrasikan informasi HIV dan AIDS ke dalam kegiatan-kegiatan yang mereka minati, dibanding membawa mereka ke pertemuan resmi,” tambahnya.

Olahraga adalah bagian penting dalam kehidupan masyarakat Tanah Papua, menurut Musa Kamudi, Kepala Dinas Provinsi Dinas Pemuda dan Olahraga di Papua Barat.

“Melalui olahraga mereka bisa tetap sehat, dan terhindar akan kemungkinan tertarik dengan kegiatan-kegiatan negatif, terutama yang bisa menyebabkan HIV dan AIDS.”

Saat ini terdapat 45 klub olahraga di Manokwari, dan Dinasnya memberi dukungan yang dibutuhkan oleh klub-klub seperti Tim Bola Voli Cendrawasih ini, tambahnya.

Program pelatihan untuk para pelatih dan guru olahraga dirancang dan dilakukan oleh Asian Soccer Academy Foundation, organisasi yang memberi pendidikan khusus melalui pengembangan kegiatan olahraga di Asia.

“ASA Foundation kami libatkan karena mereka memiliki pengalaman dalam pengembangan paket-paket pelatihan dan perangkat olahraga yang baik, sekaligus melakukan pelatihannya kepada guru pendidikan jasmani dan pelatih klub,” kata Tamaela.

Informasi tentang HIV dan AIDS, contohnya, dapat disampaikan dalam bentuk diskusi maupun lewat drill seperti berlari cepat (sprint) untuk menghindari bola, yang disimbolkan sebagai virus HIV.

Latihan seperti ini tidak hanya membantu melatih fisik remaja dan anak-anak, namun juga bisa menyampaikan pesan tentang resiko HIV, dan bagaimana menghindari penularannya, lanjut Tamaela.

Mantan pemain bola professional, Micha Abidondifu, telah melatih remaja pria berumur 15 hingga 19 tahun di Manokwari sejak 2007. Tahun lalu ia mendapatkan pelatihan untuk mengintegrasi HIV dan AIDS dalam melatih bola. Pada Agustus tahun ini, dia membuka sekolah sepak bola untuk anak laki-laki dan perempuan usia 6-15 tahun.

Dengan biaya registrasi sebesar Rp 10,000 dan jumlah yang sama sebagai biaya bulanan, anak-anak muridnya belajar bermain sepak bola tiga kali seminggu di Sekolah Sepak Bola Rendani miliknya.

Menurut Micha mengajar anak-anak dan remaja mengenai HIV di lapangan bola adalah cara yang efektif untuk menyampaikan pesan penting ini.

“Masyarakat Papua dan olahraga tidak bisa dipisahkan. Di lapangan anak-anak ini bisa bebas mengekspresikan diri mereka: Mereka bisa lari, teriak – mereka bisa menjadi diri mereka sendiri,” kata Micha.

Biasanya Micha membahas tentang HIV dan AIDS sebelum latihan dimulai, atau ketika melakukan pendinginan. Seringkali dia menggunakan humor untuk menghilangkan kecanggungan. Murid-murid sepak bola dan anggota tim remajanya tidak saja telah belajar tentang penularan HIV dan AIDS, mereka juga diajarkan untuk tidak mendiskriminasi orang-orang yang hidup dengan penyakit ini.

“Pelatih mengatakan ke kami bahwa kami bisa tetap bermain sepak bola dengan mereka yang hidup dengan HIV dan AIDS,” kata Calvin Magrib, 18, yang telah berlatih di Klub Sepak Bola Rendani selama setahun. “Bahkan kami harus memberi dukungan pada mereka agar mereka bisa lebih positif,” tambahnya.

Bagi para pelatih ini, tantangan yang terbesar adalah bagaimana menyampaikan pesan yang sesuai, terutama untuk anak-anak yang lebih muda.

“Saya kan tidak bisa berbicara tentang kondom kepada mereka,” kata Micha. “Ini adalah isu yang sensitif, jadi saya harus benar-benar berpikir bagaimana menyampaikannya.”

Bagi Bernard, bapak dari dua anak laki-laki, kesulitannya adalah menyampaikan hal-hal yang “tidak nyaman” kepada remaja perempuan yang menjadi anggota timnya.

“Kadang-kadang memang susah menyampaikan pesan tentang HIV dan AIDS kepada remaja perempuan. Mungkin akan lebih membantu jika saya bisa memberi brosur pada mereka untuk menjelaskan hal-hal yang sulit untuk saya jelaskan secara verbal.”

Bernard, seorang pegawai negeri yang juga melatih tim bola voli Cendrawasih juga memberikan pengetahuan mengenai HIV/AIDS kepada remaja.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu