dalam kategori | Pola Hidup

Bahaya Suplemen Protein Pembangun Otot

Bahaya Suplemen Protein Pembangun Otot

Ternyata, mengutamakan penampilan fisik tak hanya dominasi kaum hawa. Remaja pria pun semakin banyak yang mengalami gangguan pola makan demi tubuh sempurna.

The National Eating Disorder Association AS melaporkan bahwa satu juta kaum adam menderita gangguan makan. Tetapi hanya 10 persen dari mereka yang mencari pengobatan.

Tekanan keluarga, sosial, dan tekanan dari teman merupakan faktor yang dapat menyebabkan kebiasaan makan yang tidak sehat pada pria. Sebagian remaja pria ingin berusaha tampil seperti karakter action figure dengan tubuh berotot, atletis, dan menarik.

Beberapa peneliti percaya bahwa action figure seperti G.I. Joe, mempromosikan fisik yang terlalu berotot, sesuatu yang erat berhubungan dengan maskulinitas tinggi. Beberapa olahraga, seperti senam dan menyelam, juga mengharapkan tipe tubuh tertentu.

Penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut menyebabkan banyak remaja mengonsumsi suplemen, demi memperbaiki masalah internal mereka: ketidakpuasan pada tubuh. Mereka juga berolahraga secara berlebihan dan terlibat perilaku maladaptif lainnya untuk mengelola berat badan, termasuk membatasi makan, dan pesta minuman keras.

Penggunaan suplemen makanan dan diet kerap dilakukan. Namun, banyak yang tidak mempertimbangkan dampak bahaya dari kebiasaan tersebut. Antara lain kenaikan berat badan yang berhubungan dengan retensi air, kram otot, dehidrasi, muntah, pusing, dan diare. Dalam kasus ekstrim, suplemen juga dapat menyebabkan gagal ginjal.

Sebuah kasus di AS menyebutkan seorang remaja harus menjalani transplantasi ginjal karena mengasup suplemen protein dan kreatin secara berlebihan.

Namun, tidak berarti semua suplemen itu buruk. Hanya, mengingat efek sampingnya yang cukup serius, perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil keputusan untuk mengonsumsinya.

Sama seperti stigma yang melekat dengan wanita dan gangguan makan, para pria juga mesti waspada. Banyak pria merasa sangat sulit mencari bantuan karena mereka merasa tidak nyaman, malu, atau risih jika orang tahu mereka mengidap gangguan makan.

Dalam masyarakat, pria selalu diharapkan untuk menjadi yang terkuat, mereka mungkin merasa lemah untuk mengakui bahwa mereka memiliki penyakit. Padahal, rasa malu dapat menghalangi mereka dari mencari bantuan. Medis dan psikiatris juga harus berperan dalam membantu gangguan makan pada laki-laki.

Di Balik Suplemen Protein Pembangun Otot

The British Dietetic Association (BDA) menyebutkan protein tambahan dalam dosis tinggi bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan sperti kerusakan ginjal dan liver.

Kandungan suplemen protein itu sendiri masih belum jelas. Produsen mengatakan selama 11 tahun terakhir ini produk mereka cukup aman, buktinya hanya 11 konsumen yang melaporkan adanya efek samping.

Jane Griffin, mantan ahli nutrisi atlet olimpiade Inggris mengatakan, makin banyak protein yang dikonsumsi, makin banyak yang harus dikeluarkan tubuh.

“Orang yang mengonsumsi protein dosis tinggi banyak yang menderita gangguan ginjal karena tingginya jumlah protein yang harus mereka singkirkan,” kata Griffin.

Tubuh memang memerlukan protein untuk pembentukan otot dan para penggila bentuk tubuh berotot menggunakan protein dosis tinggi supaya ototnya lebih cepat terbentuk.

Euromonitor, yang melakukan penelitian tentang marketing memperkirakan industri suplemen olahraga tumbuh 15 persen tahun lalu.

Sekitar satu dari lima orang yang pergi ke gym lebih dari dua kali seminggu juga diketahui menggunakan suplemen, baik itu dalam bentuk bubuk atau camilan batangan.

Departemen Kesehatan Inggris merekomendasikan pada orang dewasa untuk menghindari konsumsi protein lebih tinggi dari yang dianjurkan (55,5 gr untuk pria, dan 45 gr untuk wanita).

Salah satu kandungan dalam suplemen olahraga yang dianggap berbahaya adalah DMAA. Stimulan tersebut dijual dalam bentuk minuman kocok (shake) pembakar lemak.

Richard Cook (22) mengaku selama empat tahun selalu mengonsumsi suplemen protein dan juga rutin minum shakes pembakar lemak antara 4-7 gelas setiap hari. Ia pun mengalami efek samping yang tidak mengenakkan.

“Saya merasa seperti minum obat. Sering merasa gemetar dan mudah marah,” katanya. Meski saat ini ia masih mengonsumsi suplemen protein dan kreatin, tetapi ia sudah tidak lagi minum shakes.

Asosiasi Produsen Makanan Kesehatan, yang mewakili industri suplemen, mengatakan produk suplemen kebugaran mereka aman dan sudah diakui konsumen. Dalam laman Facebook mereka menulis, selama aturan pakai ditaati, seharusnya tidak ada efek samping yang bisa merugikan kesehatan.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu