dalam kategori | Featured, Layanan Kesehatan

Anti Oksidan berperan dalam Terapi Diabetes Melitus Tipe 2

Anti Oksidan berperan dalam Terapi Diabetes Melitus Tipe 2

Metabolik sindrom sering kali menimpa penderita obesitas sentral disertai empat gejala, yg meliputi peningkatan kadar gula darah, peningkatan tekanan darah,penurunan kolesterol HDL, dan peningkatan kadar gula darah puasa. Jika tidak diterapi, sindrom tersebut dapat menyebabkan penyakit diabetes tipe 2. Terapi utama diabetes adalah penggunaan antidiabetes oral. Selain penggunaan obat anti diabetes oral, antioksidan juga dapat digunakan untuk membantu pengobatan diabetes tipe 2. Manfaat antioksidan diantaranya dapat mencegah gangguan pada sel, seperti kerusakan membran sel, DNA, dan mitokondria. Selain itu, antioksidan juga dapat melindungi perisai sel dari radikal bebas. Demikian kesimpulan dari simposium GlucoBion dalam rangkaian simposium Endokrinologi klinik VI, di Bandung, 10 juli 2007.

Metabolik sindrom, seperti diterangkan Dr.Augusta L,Arifin,SpPD-KEMD, terjadipada penderita obesitas sentral, dimana terjadi penumpukan lemak di daerah abdomen. Kondisi tersebut ditambah dengan kurangnya aktifitas fisik sehingga menyebabkan terjadinya resistensi insulin, hiperinsulinemia, kenaikan tekanan darah, dan kenaikan trigliserida. Peningkatan insulin, asam lemak bebas, dan/atau kadar glukosa dapat meningkatkan produksi ROS (reactive oxygen species)-yang merupakan radikal bebas-sertastres oksidatif. Hal ini akan memperburuk aktifitas dan sekresi insulin,serta mempercepat progresi menjadi diabetes tipe 2 yg nyata. Stres oksidatif dikatakan bisa memperburuk komplikasi diabetes dan komplikasi ini dapat mengubah kebutuhan tubuh akan oksidan.

Untuk itu, tubuh membutuhkan antioksidan yg dapat menetralisir molekul reaktif dan menurunkan kerusakan oksidatif. Antioksidan dapat diperoleh dari maanan seperti vitamin C, vitamin E, dan beta karoten. Pemberian antioksidan harus memperhatikan beberapa hal, seperti lamanya terapi, penggunaan antioksidan yang tepat, dan mulai terapi yg lebih awal. Pendapat yg sama juga dinyatakan oleh Dr.Widjaja Lukito, PhD, yg mengatakan bahwa karena adanya metabolik sindrom, tubuh menghasilkan lebih banyak spesies oksigen reaktif sehingga tubuh harus mendapatkan antioksidan untuk mengimbanginya. Anti oksidan dapat berupa vitamin C, Vitamin E, Selenium, Zinc, Betakaroten,copper, dan glutation.

Recomended dietary allowance menyatakan bahwa wanita dan pria membutuhkan vitamin E masing-masing 15 mg. sedangkan vitamin C yg dibutuhkan wanita 75 mg dan pria 90 mg. Untuk mencegah penyakit jantung iskemik, dianjurkan menambah asupan vitamin C 150 mg, vitamin E 30 mg dan beta karoten 3 mg per hari.

Menurut Dr.Hikmat Permana, SpPD-KEMD, salah satu efek hiperglikemia adalah peningkatan muatan oksidatif atau stres oksidatif. selain itu, stres oksidatif juga meningkatkan laju infark miokard pada penderita diabetes.

Terdapat dugaan yg kuat bahwa terapi dengan vitamin dapat bekerja sbg antioksidan dan mencegah komplikasi diabetes. Terapi antioksidan ini harus disertai dgn terapi yg lain untuk mengendalikan hiperglikemia, hiperlipidemia, dan hipertensi pada pasien diabetes resiko tinggi.. Selain vitamin antioksidan, kromium juga berperan penting pada perbaikan penyakit diabetes. Penelitian membuktikan bahwa kromium menunjukan perbaikan kadar glukosa darah pada subjek dgn intoleransi glukosa, meningkatkan kadar insulin pada sel, dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu