dalam kategori | Layanan Kesehatan

Menolong para pasien gagal ginjal yang tidak mampu cuci darah

Menurut statistik yang dihimpun oleh PERNEFRI (Perhimpunan Nefrologi Indonesia), penderita gagal ginjal di Indonesia mencapai jumlah 70.000 orang. Sedangkan pada saat ini hanya sekitar 13.000 penderita yang ”sanggup” melakukan cuci darah. Rinciannya, 5.000 penderita membayar dengan kemampuan sendiri sedangkan 8000 penderita lainnya disantuni oleh Departemen Kesehatan melalui JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) dan PT. Asuransi Kesehatan Indonesia (Dana Askes).

Memperhitungkan data diatas, tampak sekali bahwa banyak pasien gagal ginjal (lebih dari 50.000 penderita) yang tidak bisa mendapatkan pelayanan cuci darah. Pada umumnya penderita yang tidak bisa dilayani karena keterbatasan biaya. Para penderita gagal ginjal seperti ini umumnya secara sadar melepaskan nyawanya karena sudah tidak mampu lagi membayar biaya cuci darah.

Selain itu, apabila kita mengunjungi klinik cuci darah dirumah sakit pemerintah, maka banyak pasien yang harus antri untuk menunggu giliran cuci darah. Begitu juga dengan pasien dirumah sakit swasta. Pada umumnya, rumah sakit pemerintah melayani para pasien gagal ginjal ini sampai 3 shift (satu shift = 5 jam pelayanan). Bahkan ada rumah sakit swasta di Jakarta yang melayani hingga 4 shift karena saking terbatasnya klinik yang mempunyai fasilitas pencucian darah di Indonesia.

Inisiatif seorang putra bangsa

Atas pertimbangan-pertimbangan itulah, rekan kita Andreas Japar (alumni ITB dari Fisika Teknik angkatan 1977 – baca kisah kehidupannya disini), mengambil inisiatif untuk membuka klinik cuci darah dengan kategori-kategori berikut:

  1. Untuk penderita kelas menengah keatas, Andreas mengupayakan agar biayanya10 % s/d 50 % lebih murah dari biaya umumnya. Sebagai contoh bila biaya umumnya sekitar Rp. 800.000-Rp. 1.200.000 setiap kali cuci darah, maka Andreas menyiapkan klinik dengan fasilitas yang sama tapi dengan harga antara Rp. 550.000- Rp. 700.000.
  2. Dengan banyaknya pasien kurang mampu, yang membutuhkan pelayanan cuci darah, maka Andreas juga akan membuka pelayanan cuci darah dengan tarif Rp. 400.000- Rp. 450.000 per cuci darah. Pelayanan ini mempunyai kualitas yang sama dengan pelayanan untuk pasien kelas menengah keatas, khususnya bila ditinjau dari sudut medis. Perbedaannya dari segi fasilitas fisik seperti kualitas ruangan, kualitas ranjang dll. Untuk klinik kategori ini, Andreas mengutamakan unsur kegiatan sosial dengan penerapan strategi pengelolaan yang sederhana dan tepat. Bahkan Andreas saat ini sedang mengupayakan, agar pasien yang benar-benar tidak mampu, akan memperoleh pelayanan cuci darah gratis.

Bagaimana kiat Andreas untuk menghimpun dana sosial

Dalam menghimpun dana, Andreas bekerja sama dengan banyak pihak. Untuk klinik kelas menengah keatas, Andreas bekerja sama dengan Yayasan Kesejahteraan Muslimat Nadhatul Ulama (YKMNU). Kerjasama ini telah menghasilkan sebuah Klinik Cuci darah (Hemodialisis) dengan nama KLINIK CIPTA HUSADA, di Jl. Hang Tuah 1 No. 12, Kebayoran, Jakarta Selatan (Tel: 021 7243220), yang baru saja diresmikan. Klinik ini mengulang kesuksesan klinik sebelumnya yang telah ia dirikan di RS. Royal Taruma, Jl. Daan Mogot Jakarta Barat.

Sedangkan untuk pasien yang kurang mampu, Andreas bekerja sama dengan Lions club. Karena untuk membuka satu klinik cuci darah dengan kapasitas 10 unit mesin cuci darah berikut perlengkapannya, memerlukan biaya sekitar Rp. 1 Milyar. Padahal untuk melayani pasien yang kurang mampu, investasi tersebut harus diperoleh dari donasi. Untuk ini, Andreas mengajak organisasi sosial seperti Lions Club, dimana anggotanya bisa memberikan donasi untuk membeli mesin cuci darah. Apabila 10 unit mesin cuci darah bisa disumbang oleh 20-100 anggota Lions Club, maka biaya yang diperlukan menjadi ringan dan bisa ditetapkan tarif cuci darah yang sangat murah dan bahkan gratis.

Menurut rencana, klinik ginjal yang untuk golongan menengah-bawah ini akan selesai pada awal September 2008, yaitu Klinik Cuci Darah di RS. Happy Land, Daerah Timoho, Jogyakarta dengan kapasitas awal 12 mesin. Selain itu Andreas juga sedang mengejar penyelesaian Klinik Cuci Darah Lions di daerah Pluit Jakarta dengan kapasitas 40 mesin yang direncanakan akan diresmikan akhir Desember 2008. Andreas juga mengajak siapa saja yang ingin beramal dan melakukan kegiatan sosial untuk mendonasikan uangnya dalam membeli mesin pencuci darah untuk disumbangkan di klinik-klinik tersebut. Bagi yang berminat melakukan kegiatan sosial, Andreas Japar dapat dihubungi di no HP berikut 0818 841 050 atau pada alamat e-mail japarbax@pacific.net.id

Tidak lain saya mengucapkan selamat kepada Andreas dan apresiasi yang tinggi atas segala upaya-upayanya untuk menolong para pasien dan penderita penyakit gagal ginjal di Indonesia. Saya tahu bahwa Andreas adalah pelopor konsep dan pelaku…….”Do business with your heart”. Marilah ke berbisnis dengan hati kita.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu