dalam kategori | Layanan Kesehatan

3,2 Juta Rakyat Indonesia Menjadi Pengguna Narkoba

3,2 Juta Rakyat Indonesia Menjadi Pengguna Narkoba

Narkoba terus mengancam Indonesia. Catatan Badan Narkotika Nasional (BNN) 1,5 persen populasi penduduk Indonesia atau sekitar 2,9 juta sampai 3,2 juta orang terlihat penyalahgunaan narkoba.Bahkan sekitar 15 ribu jiwa harus melayang sia-sia tiap tahun karena barang haram tersebut.

BNN juga mencatat, jumlah tindak pidana narkotika dan psikotropika terus meningkat. Tahun 1997 hanya terjadi 622 kasus Narkoba. Memasuki tahun 2000-an, terjadi lebih dari 3 ribu kasus. Di atas tahun 2005, kasus Narkoba mencapai puluhan ribu. Tahun 2011, kasus Narkoba yang terungkap sebanyak 26.560 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 32.876 orang.

Dari barang bukti ketiga jenis narkotika yang disita kepolisian selama tahun 2011, apabila diuangkan, maka yang dapat diselamatkan Rp 925,9 miliar. Jenis-jenis bahan yang dikategorikan sebagai narkotika adalah, ganja, heroin, hashish, kokain, ekstasi, shabu, dan shabu cair. Jenis bahan yang dikategorikan sebagai psikotropika adalah ketamin, benzodiazepin dan barbiturat.

Dominasi tindak krimininal karena Narkoba terbukti dari jumlah narapidana penghuni lembaga pemasyarakatan. Catatan Dirjen Pemasyarakatan mengungkapkan di 33 lembaga pemasyarakatan yang tersebar di tanah air yang menampung 45 ribu napi, 90 persen atau 41 ribu napi diantaranya terjerumus di Hotel Prodeo ini karena kasus narkoba.

Ada dua jenis napi narkoba penghuni lapas. Pertama, karena bandar atau mengedarkan yang jumlahnya 21,9 ribu napi, sedangkan sisanya sebanyak 19,8 ribu adalah napi pengguna narkoba. Lalu, dari 87 napi vonis mati, lebih dari 50 persen atau 50 tervonis mati karena kasus Narkoba.

Provinsi DKI Jakarta merupakan tempat paling banyak terjadi tindak pidana narkoba. Di Lapas Cipinang, Jakarta Timur ada 6.195 napi penghuni lapas khusus narkoba itu, Jawa Barat 3.700 napi, dan Sumatera Utara 1.994 napi. Sedangkan, lapas di Sumatera Utara paling banyak dihuni pengguna sebanyak 4.297 napi, Jawa Timur sebanyak 2.426 napi dan Jawa Barat sebanyak 2.253 napi.

Penelusuran Rakyat Merdeka, mendapatkan narkotika dan psikotropika tidaklah sulit. Di tempat-tempat hiburan malam di Jakarta, pil ekstasi bisa dengan mudah didapat. Transaksi memang dilakukan secara tertutup.

Namun dengan modal ‘kenalan’ saja, pil yang mengandung Amphetamine dan menimbulkan dampak bersemangat, gelisah dan tidak bisa diam, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, bisa didapat.

Begitupun shabu-shabu dan ganja. Barang-barang ini bisa dengan mudah didapat di masyarakat. Meskipun transaksi dilakukan secara sembunyi-sembunyi dengan memanfaatkan jaringan pertemanan. Hal ini juga menunjukkan, jumlah kasus narkotika dan psikotropika yang terungkap seperti fenomena puncak gunung es, yang terungkap baru sebagian kecil saja.

Kondisi di atas menunjukkan, peredaran narkotika dan psikotropika dalam tahap membahayakan. Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam, meminta polisi tidak tinggal diam saja melihat fenomena ini. Peredaran narkoba di klub-klub malam diperangi dan harus benar-benar disikat habis, bukan hanya operasi pura-pura.

“Saatnya perang semesta terhadap peredaran narkoba dan miras. Negara jangan kalah sama cukong, bandar, dan mafia narkoba,” kata Asrorun Niam dalam pernyataan persnya, kemarin.

Pria yang biasa disapa Niam ini menjelaskan, efek bahaya narkoba dan miras, bukan hanya bagi pengguna tetapi juga bagi orang lain.

Lebih gila lagi, bisa merusak masa depan generasi muda. Pihak berwajib diminta serius memperhatikan hal ini.

“Korban yang paling rentan terhadap dampak peredaran narkoba dan miras adalah anak-anak,” katanya.

Dia mencontohkan korban tabrakan maut di kawasan Tugu. Tabrakan itu terjadi karena salah satu penyebabnya, Afriyani, pengendara mobil Xenia dalam kondisi seusai menggunakan narkoba juga nenggak minuman keras.

Seperti diketahui, tabrakan maut ini menewaskan 9 orang. Lima orang adalah anak-anak.

Kasus Afriyani, lanjut Niam, harus dijadikan momentum perbaikan yang holistik dan tidak parsial.

Caranya, harus ada ketegasan untuk zero toleransi bagi peredaran narkoba, terutama di tempat-tempat hiburan malam.

“Evaluasi terhadap perizinan juga perlu dilakukan, termasuk tegas tidak memberikan akses anak-anak untuk masuk,” tuturnya.

Dia menjelaskan, dampak pemakaian narkoba sangat luar biasa. Berbagai masalah multidimensi pun bermunculan, mulai bidang kesehatan, sosial, kriminal, hingga ekonomi.

Di sektor kesehatan, misalnya, beberapa penyakit seperti hepatitis dan HIV/AIDS merupakan buah dari penyalahgunaan narkoba.

Belum lagi, biaya pengobatan dan rehabilitasi pasien bisa dibilang tidak sedikit, kenyamanan dan pelayanannya disesuaikan dengan kelas masing-masing.

Selain masalah kesehatan dan ekonomi, masalah sosial dan kriminalitas menjadi problematika klasik. Banyak aksi kriminal disebabkan pelaku yang berada di bawah pengaruh narkoba. Aksi pencurian, penodongan, dan lain-lain juga tak terlepas dari pengaruh narkoba.

Pemeriksaan Acak Perlu Dihidupkan Kembali

Sumirat Dwiyanto, Kahumas BNN

Kepala Hubungan Masyarakat badan narkotika Nasional (Kahumas BNN) Sumirat Dwiyanto mengatakan, BNN-Polri pernah bekerja sama merazia rutin tempat-tempat hiburan malam. Sayangnya, langkah itu terhenti karena muncul perlawanan sejumlah kalangan dengan dalih Hak Azasi Manusia.

“Kami sering melakukan razia-razia di tempat hiburan bekerja sama dengan kepolisian. Yang terjadi adalah munculnya kritikan karena dianggap melanggar HAM. Alasannya, apakah setiap orang di tempat hiburan itu memakai narkoba?” katanya, kemarin.

Karena perlawanan itulah, BNN memilih melakukan penyisiran indikasi penyalahgunaan narkoba secara selektif, terarah dan tidak melakukan razia secara acak yang baru-baru ini berhasil menangkap pilot maskapai Lion Air di sebuah tempat hiburan karaoke di Makassar.

“Seperti kasus pilot kemarin, kami tidak melakukan razia secara keseluruhan di karaoke itu, kami lakukan identifikasi secara detail lalu kami lakukan penangkapan. Jadi kami tidak lakukan secara ‘gebyah-uyah’,” ujarnya.

Sumirat menegaskan, spot test alias pemeriksaan secara acak perlu dihidupkan kembali terutama kepada pengemudi kendaraan di jalan untuk mengantisipasi jatuhnya korban seperti dalam insiden Tugu Tani.  “Mungkin yang diperlukan adalah spot test bagi pengendara melalui pemeriksaan urine maupun air liur untuk mentest adanya indikasi pemakaian alkohol atau narkoba pada saat pemeriksaan di lapangan. Jadi razia kendaraan tidak hanya sekedar kelengkapan administrasi seperti SIM, atau STNK. Perlu juga dilakukan tes urine, rambut, atau nafas melalui breath test,” paparnya.

Dia berharap, dengan cara itu bisa menekan kasus pengemudi yang menggunakan narkoba sehingga memakan korban jiwa. Di Perguruan Tinggi juga sudah dilakukan tes semacam ini. Dengan adanya spot test orang pasti akan berpikir jangan-jangan saat lagi di jalan akan diperiksa, dapat memberikan efek jera bagi mereka,” katanya.

Ditjen PAS Lempar Tanggung Jawab

Eva Kusuma Sundari, Anggota Komisi III DPR

Razia peredaran narkoba diharapkan dilakukan di lembaga pemasyarakatan karena masih ditemukan narapidana yang menjadi pengedar dari balik jeruji besi.

Menurut anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari kenyataan yang terjadi saat ini, narapidana kasus pengedaran atau bandar narkoba tetap bisa mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji. Artinya, bisa jadi ada unsur pembiaran dari sipir. Kemungkinan terburuknya, sipir ikut menikmati hasil peredaran gelap narkoba yang dikendalikan narapidana.

“Kita sudah sering meminta pertanggungjawaban Ditjen PAS, namun mereka selalu melempar tanggungjawab ke Kanwil. Manajemen macam apa ini?” katanya, kemarin.

Menurut politisi PDIP ini, mestinya penegak hukum bertindak lebih tegas narapidana yang tetap berbuat kriminal. Sebab, sangat konyol sebuah penjara yang notabene tempat pembinaan malah jadi surga bagi pengedar narkoba. “Seharusnya mereka tidak lagi bisa melakukan aksi kejahatan apa pun,” ucapnya.

Bukan Razia Musiman

Kombes Pol Boy Rafli Amar, Kabag Penum Mabes Polri

Polri menegaskan operasi narkoba dilakukan setiap saat tanpa terikat pada momentum tertentu. Contohnya, terungkapnya penyelundupan 100 kilogram Shabu-shabu di Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat.

“Ada atau tidak ada momentum seperti kasus Afriani, Polri akan terus menelusuri bandar narkoba. Terakhir di Pelabuhan Tanjung Priok 20 kilogram shabu, di Ujung Genteng hampir 100 kilogram,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar, kemarin.

Dia mengklaim, setahun belakangan ini prestasi Polri dalam mengungkap kasus narkoba sangat baik. Polri juga punya skema yang baik dan terstruktur untuk mengungkap jaringan narkoba. Jadi bukan cuma razia-razia musiman. “Pencapaiannya kita bagus pada tahun lalu. Masyarakat juga harus tahu, bahwa narkoba itu musuh bersama,” tegasnya.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu